Iodo-Iodimetri

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1  Latar Belakang

Titrasi iodometri dan iodimetri adalah salah satu metode titrasi yang didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi. Metode ini lebih banyak digunakan dalam analisa jika dibandingkan dengan metode lain. Alasan dipilihnya metode ini karena perbandingan stoikometri yang sederhana pelaksanannya praktis dan tidak benyak masalah dan mudah.

Iodimetri adalah jika titrasi terhadap zat-zat reduktor dengan titrasi langsung dan tidak langsung. Dilakukan percobaan ini untuk menentukan kadar zat-zat oksidator secara langsung, seperti yang kadar terdapat dalam serbuk vitamin C.

Titrasi tidak langsung iodometri dilakukan terhadap zat-zat oksidator berupa garam-garam besi (III) dan tembaga sulfat dimana zat-zat oksidator ini direduksi dahulu dengan KI dan iodin dalam jumlah yang setara dan ditentukan kembali dengan larutan natrium tiosulfat baku.

Dalam bidang farmasi metode ini digunakan untuk menentukan kadar zat-zat yang mengandung oksidator misalnya Cl2, Fe (III), Cu (II) dan sebagainya, sehingga mengetahui kadar suatu zat berarti mengetahui mutu dan kualitasnya.

I.2  Maksud dan Tujuan

I.2.1.  Maksud Percobaan

Mengetahui dan memahami cara penetapan kadar suatu senyawa secara volumetri.

I.2.2  Tujuan Percobaan

  1. Menentukan kadar dari kaffein berdasarkan reaksi oksidasi reduksi berdasarkan metode iodimetri.
  2. Menentukan kadar dari Asam askorbat berdasarkan reaksi oksidasi reduksi berdasarkan metode iodometri-iodimetri.
  3. Menentukan kadar dari Cupri sulfat berdasarkan reaksi oksidasi reduksi berdasarkan metode iodimetri-iodometri.
  4. Menentukan kadar dari fruktosa berdasarkan reaksi oksidasi reduksi berdasarkan metode iodimetri-iodometri.
  5. Menentukan kadar dari ampisilin berdasarkan reaksi oksidasi reduksi berdasarkan metode iodimetri-iodometri.

I.3  Prinsip Percobaan

  • Metode Iodometri

Penentuan kadar Vitamin C secara volumetri dengan metode iodimetri berdasarkan reaksi oksidasi reduksi antara sampel sebagai reduktor dengan larutan baku I2 0,1 N sebagai oksidator dalam suasana asam dengan menggunakan indikator larutan kanji dengan titik akhir ditandai dengan perubahan warna larutan dari bening menjadi biru..

  • Metode Iodimetri

Penentuan kadar CuSO4 secara volumetri dengan metode iodometri berdasarkan reaksi oksidasi reduksi dimana sampel yang bersifat oksidator yang direduksi dahulu dengan KI, lalu I2 yang dibebaskan ditentukan jumlahnya dengan cara titrasi menggunakan larutan baku Na2S2O3 0,1 N dalam suasana asam, dengan menggunakan indikator larutan kanji dimana titik akhir titrasi titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan dari biru menjadi bening.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1  Teori Singkat

Iodimetri adalah analisa titrimetri untuk zat-zat reduktor seperti natrium tiosulfat, arsenat dengan menggunakan larutan iodin baku secara langsung. Iodometri adalah analisa titrimetri untuk zat-zat reduktor dengan penambahan dengan penambahan larutan iodin baku berlebihan dan kelebihannya dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat baku. Pada titrasi iodimetri titrasi oksidasi reduksinya menggunakan larutan iodum. Artinya titrasi iodometri suatu larutan oksidator ditambahkan dengan kalium iodida berlebih dan iodium yang dilepaskan (setara dengan jumlah oksidator) ditirasi dengan larutan baku natrium tiosulfat. (1)

Bagan reaksi :

Ox + 2 I-                                  I2 + red

I2 + 2 S2O3=                             2 I- + S4O6=

Titrasi dapat dilakukan tanpa indikator dari luar karena larutan iodium yang berwarna khas dapat hilang pada titik akhir titrasi hingga titik akhir tercapai. Tetapi pengamatan titik akhir titrasi akan lebih mudah dengan penambahan larutan kanji sebagai indikator, karena amilum akan membentuk kompleks dengan I2 yang berwarna biru sangat jelas. Penambahan amilum harus pada saat mendekati titik akhir titrasi. Hal ini dilakukan agar amilum tidak membungkus I2 yang menyebabkan sukar lepas kembali, dan ini akan menyebabkan warna biru sukar hilang, sehingga titik akhir titrasi tidak terlihat tajam. (2)

Indikator kanji merupakan indikator yang sangat lazim digunakan, namun indikator kanji yang digunakan harus selalu dalam keadaan segar dan baru karena larutan kanji mudah terurai oleh bakteri sehingga untuk membuat larutan indikator yang tahan lama hendaknya dilakukan sterilisasi atau penambahan suatu pengawet. Pengawet yang biasa digunakan adalah merkurium (II) iodida, asam borat atau asam formiat. Kepekatan indikator juga berkurang dengan naiknya temperatur dan oleh beberapa bahan organik seperti metil dan etil alkohol. (3)

Iodium hanya sedikit sekali larut dalam air (0,00134 mol/liter pada 25oC), namun sangat mudah larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. Iodium membentuk kompleks triiodida dengan iodida, dengan tetapan keseimbangan 710 pada 25oC. Penambahan KI untuk menurunkan keatsirian dari iod, dan biasanya ditambahkan KI 3-4 % dalam larutan 0,1 N dan kemudian wadahnya disumbat baik-baik dan menggunakan botol yang berwarna gelap untuk menghindari penguraian HIO oleh cahaya            matahari. (3)

Pada proses iodometri atau titrasi tidak langsung banyak zat pengoksid kuat yang dapat dianalisis dengan menambahkan KI berlebihan dan mentitrasi iodium yang dibebaskan. Karena banyak zat pengoksid yang menuntut larutan asam untuk bereaksi dengan iodida, natrium tiosulfat lazim digunakan sebagai titran. Beberapa tindakan pencegahan perlu diambil untuk menangani KI untuk menghindari galat. Misalnya ion iodida dioksidai oleh oksigen di udara :

4 H+  +  4 I-  +  O2                               2 I2  +  2 H2O

Reaksi ini lambat dalam larutan netral namun lebih cepat dalam larutan asam dan dipercepat dengan cahaya matahari. Setelah penambahan KI ke dalam suatu larutan (asam) dari suatu zat pengoksid larutan tak boleh dibiarkan terlalu lama bersentuhan dengan udara, karena akan terbentuk tambahan iodium oleh reaksi tersebut di atas. (4)

Pada titrasi iodometri titrasi harus dalam keadaan asam lemah atau nertal karena dalam keadaan alkali akan terbentuk iodat yang terbentuk dari ion hipoiodit yang merupakan reaksi mula-mula antara iodin dan ion hidroksida, sesuai dengan reaksi :

I2 + O2                         HI + IO-

3 IO-                            IO3- + 2 I-

dalam keadaan alkali ion-ion ini akan mengoksidasi sebagian tiosulfat menjadi ion sulfat sehingga titik kesetarannya tidak tepat lagi. Namun pada proses iodometri juga perlu dihindari konsentrasi asam yang tinggi karena asam tiosulfat yang dibebaskan akan mengendap dengan pemisahan belerang, sesuai dengan reaksi berikut :

S2O3= + 2 H+                           H2S2O3

8 H2S2O3                                 8 H2O + 8 SO2 + 8 S

Larutan tiosulfat tidak stabil dalam waktu lama. Bakteri yang memakan belerang akan masuk ke dalam larutan ini dan proses metaboliknya akan mengakibatkan pembentukan SO3=, SO4= dan belerang koloidal. (3)

Tiosulfat diuraikan dalam bentuk belerang dalam suasana asam sehingga endapan mirip susu. Tetapi reaksi tersebut lambat dan tak terjadi jika larutan dititrasikan ke dalam larutan iodium yang asam dan dilakukan pengadukan yang baik. Iodium mengoksidasi tiosulfat menjadi ion tetraionat

I2 + 2 S2O3=                             2 I- + S4O6=

Reaksi ini sangat cepat dan berlangsung sampai lengkap benar tanpa reaksi samping. Dalam larutan netral atau sedikit sekali basa oksidasi ke sulfat tidak terjadi terutama jika digunakan iodium sebagai titran. (4)

Iodometri menurut penggunaan dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu :

  1. Titrasi iod bebas.
  2. Titrasi oksidator melalui pembentukan iodium yang terbentuk dari iodida.
  3. Titrasi reduktor dengan penemtuan iodium yang digunakan.
  4. Titrasi reaksi, titrasi senyawa dengan iodium melalui adisi atau subsitusi.

II.2  Uraian Bahan

  1. Vitamin C (5, 47)

Nama resmi            : Acidum ascorbicum

Sinonim                  :  Asam askorbat, Vitamin C

RM/BM                  :  C6H8O6 / 176,13

Rumus struktur         :

CH2OH

CHOH

O

=O

OH  OH

Pemerian                : Serbuk atau hablur, putih atau agak kuning, tidak berbau rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap di udara, dalam larutan cepat teroksidasi.

Kelarutan               : Mudah larut dalam air, agak sukar laut dalam etanol 95 % P, praktis tidak larut dalam kloroform P dan eter P dan dalam benzen P.

Khasiat                   : Antiskorbut

Kegunaan               : Sebagai sampel

Penyimpanan         :   Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya

Persyaratan Kadar :   Mengandung tidak kurang dari 99,0 % C6H8O6

  1. Tembaga (II) sulfat (5,731)

Nama resmi            : Cuprii sulfas

Sinonim                  : Tembaga (II) sulfat

RM/BM                  : CuSO4 / 249,68

Pemerian                : Prisma triklinik atau serbuk hablur, biru.

Kelarutan               : Larut dalam 3 bagian air dan dalam 3 bagian gliserol P, sangat sukar larut dalam etanol 95 % P

Khasiat                   : Zat tambahan

Kegunaan               : Sebagai sampel

Penyimpanan          : Dalam wadah tertutup rapat

Persyaratan Kadar  : Mengandung tidak kurang dari 98,5 % dan tidak lebih dari1001,0 % CuSo4. 5H2O.

  1. Iodium (5,316)

Nama resmi            : Iodum

Sinonim                  : Iodium

RM/BM                  : I2 / 126,91

Pemerian                : Keping atau butir, mengkilat seperti logam hitam kelabu, bau khas.

Kelarutan               : Sukar larut dalam air, mudah larut dalam garam iodida, mudah larut dalam etanol 95% P.

Khasiat                   : Anti infeksi kulit

Kegunaan               : Sebagai larutan baku

Penyimpanan          : Dalam wadah tertutup rapat

  1. Kalium Iodida (5,330)

Nama resmi            : Kalii iodidum

Sinonim                  : Kalium iodida

RM/BM                  : KI / 166,00

Pemerian               :   Hablur heksahedral, transparan atau tidak berwarna, opak dan putih, atau serbuk butiran putih. Higroskopik.

Kelarutan               : Sangat mudah larut dalam air, lanih mudah larut dalam air mendidih, larut dalam etanol 95 % P, mudah larut dalam gliserol P.

Khasiat                   : Anti jamur

Kegunaan               : Sebagai reduktor yang melepaskan I2

Penyimpanan          : Dalam wadah tertutup baik

  1. Amylum manihot (5,93)

Nama resmi            : Amylum manihot

Sinonim                  : Pati singkong

Pemerian                : Serbuk halus, kadang-kadang berupa gumpalan kecil, putih, tidak berbau, tidak berasa.

Kelarutan               : Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol 95 % P

Khasiat                   : Zat tambahan

Kegunaan               : Sebagai indikator

Penyimpanan         :   Dalam wadah tertutup baik ditempat sejuk dan kering.

  1. Asam sulfat (5,58)

Nama resmi            : Acidum sulfuricum

Sinonim                  : Asam sulfat

RM/BM                  : H2SO4 /98,07

Pemerian               :   Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna, jika ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas.

Khasiat                   : Zat tambahan

Kegunaan               : Sebagai katalisator

Penyimpanan          : Dalam wadah tertutup baik

  1. Asam asetat (5,41)

Nama resmi            : Acidum aceticum

Sinonim                  : Asam asetat

RM/BM                  : CH3COOH

Pemerian                : Cairan jernih, tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, tajam.

Kelarutan               : Dapat campur dengan air, dengan etanol 95% P dan dengan gliserol P

Khasiat                   : Zat tambahan

Kegunaan               : Sebagai katalisator

Penyimpanan          : Dalam wadah tertutup rapat

  1. Air Suling (5,96)

Nama resmi            : Aqua destillata

Sinonim                  : Air suling, aquades

RM/BM                  : H2O /18,02

Pemerian                : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa

Khasiat                   : Zat tambahan

Kegunaan               : Sebagai pelarut

Penyimpanan          : Dalam wadah tertutup baik

II.3  Prosedur Kerja

  1. Vitamin C (5,47)

Timbang seksama 400 mg, larutkan dalam campuran 100 ml air bebas CO2 P dan 25 ml asam sulfat (10% v/v) P, Titrasi segera dengan menggunakan iodum 0,1 N menggunakan indikator larutan kanji P.

1ml iodium 0,1 N setara dengan 8,806 mg C68O6

  1. Tembaga (II) sulfat

Timbang seksama 1 gram, larutkan dalam 50 ml air, tambahkan 3 g kalium iodida P dan 5 ml asam asetat P. Titrasi dengan natrium tiosulfat 0,1 N menggunakan indikator larutan kanji P hingga warna biru lemah, tambahkan 2 g kalium tiosianat P dan lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang.

1 ml natrium tiosulfat 0,1 N setara dengan 24,97 mg CuSO4. 5H2O

BAB III

METODE KERJA

 

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat-alat yang Digunakan

  1. Botol semprot
  2. Buret 25 ml
  3. Erlemeyer 250 ml
  4. Gelas arloji
  5. Gelas piala 250 ml
  6. Gelas ukur 25 ml dan 10 ml
  7. Kain putih
  8. Neraca Analitik
  9. Neraca Ohaus
  10. Pipet skala
  11. Sendok tanduk
  12. Statif + klem

III.1.2  Bahan-bahan yang digunakan

  1. Air suling
  2. Aluminium foil
  3. Kertas timbang
  4. Larutan asam asetat encer (CH3COOH)
  5. Larutan asam sulfat (H2SO4) 10 %
  6. Larutan baku Iodum (I2) 0,1 N
  7. Larutan baku natrium tiosulfat (Na2S2O3) 0,1 N
  8. Larutan kanji
  9. Serbuk asam askorbat (C6H8O6)
  10. Serbuk KI
  11. Serbuk tembaga (II) sulfat (CuSO4)
  12. Penentuan kadar vitamin C

III.2 Cara Kerja

q  Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan

q  Asam askorbat ditimbang seksama sebanyak lebih kurang 80 mg, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml.

q  Air bebas CO2 ditambahkan sebanyak 15 ml air bebas CO2

q  Larutan H2SO4 10 % ditambahkan sebanyak 5 ml ke dalam erlenmeyer.

q  Indikator larutan kanji ditambahkan sebanyak 2 ml

q  Larutan tersebut dititrasi dengan larutan baku I2 0,1389 N sampai terbentuknya warna biru yang tidak hilang selama 30 detik.

q  Larutan iodum yang terpakai dicatat

q  Prosedur ini diulangi satu kali lagi (duplo)

q  Kadar kemurnian vitamin C dihitung

  1. Penentuan kadar kemurnian tembaga (II) sulfat

q  Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan

q  Serbuk CuSO4 ditimbang seksama kristal sebanyak lebih kurang  250 mg, dimasukkan ke dalam erlemeyer.

q  Air suling ditambahkan sebanyak 15 ml

q  Asam asetat encer.ditambahkan sebanyak 2 ml

q  1 g KI ditambahkan ke dalam erlenmeyer.

q  Larutan tersebut dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3 0,1 N sampai coklat muda.

q  Larutan kanji 0,75 ml ditambahkan ke dalam erlenmeyer

q  Larutan tersebut dititrasi lagi dengan larutan baku Na2S2O3 0,1 N sampai endapan biru tepat hilang.

q  Larutan Na2S2O3 yang terpakai dicatat volumenya

q  Prosedur ini diulang satu kali lagi (duplo)

q  Kadar kristal tembaga (II) sulfat dihitung

BAB IV

HASIL PENGAMATAN

 

IV.1  Data Pengamatan

  1. Penentuan kadar Vitamin C

No

Sampel

Berat Sampel

Volume I2 0,1189 N

1.

2.

I

II

0,0895 gram

0,0720 gram

8,3 ml

8,1 ml

  1. Penentuan kadar kristal tembaga (II) sulfat

No

Sampel

Berat Sampel

Volume I2 0,0929 N

1.

2.

I

II

0,2398 gram

0,2627 gram

9,1 ml

9,8 ml

IV.2 Perhitungan

  1. Penetapan kadar Vitamin C

Berdasarkan reaksi didapatkan bahwa

I mol Vitamin C setara dengan 1 mol I2

BE Vitamin C = ½ BM Vitamin C

mgrek Vitamin C = mgrek I2

mg/BM = N x V

mg Vitamin C = N I2 x V I2 x BE Vitamin C

  1. mg Vitamin C = 0,1189  x  8,3  x  176,13/2

mg = 86,909 mg

86,909 mg

Jadi, kadar kemurnian Vitamin C =                          x 100 % = 97 %

89,5 mg

  1. mg Vitamin C = 0,1189  x  8,1  x  176,13/2

mg = 84,81 mg

84,81 mg

Jadi, kadar kemurnian Vitamin C =                          x 100 % = 117,79 %

72 mg

97 % + 117,79 %

Kadar rata-rata =                                  = 107,395 %

2

Menurut pustaka kadar Vitamin C adalah tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari 103,0% sehingga serbuk yang digunakan tidak memenuhi syarat kemurnian sebagai obat.

  1. Penetapan kadar kristal tembaga (II) sulfat

Berdasarkan reaksi didapatkan bahwa

2 mol tembaga (II) sulfat setara dengan 1 mol I2

BE tembaga (II) sulfat = BM tembaga (II) sulfat

mgrek tembaga (II) sulfat = mgrek Na2S2O3

mg/BM = N x V

mg tembaga (II) sulfat = N Na2S2O3 x V Na2S2O3 x BM CuSO4

1        mg CuSO4 = 0,1389  x  9,1  x  249,68

mg = 315,60 mg

315,60 mg

Jadi, kadar kemurnian Vitamin C =                          x 100 % = 131,61 %

239,8 mg

2        mg Vitamin C = 0,1389  x  9,8  x  249,68

mg = 339,87 mg

339,87 mg

Jadi, kadar kemurnian Vitamin C =                          x 100 % = 129,38 %

262,7 mg

131,61 % + 129,38 %

Kadar rata-rata =                                         = 130,5 %

2

Menurut pustaka kadar CuSO4 adalah tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari 103,0% sehingga serbuk yang digunakan tidak memenuhi syarat kemurnian sebagai obat.

IV.3  Reaksi

  1. Penentuan kadar asam askorbat

Asam askorbat

Setengah reaksi

ø    I2 + 2e-                         2 I-

ø CH2OH                                               CH2OH

CHOH                                                            CHOH

O                                                          O              + 2 H+ + 2e-

=O                                                       =O

OH  OH                                              O     O

ø CH2OH                                               CH2OH

CHOH                                                            CHOH

O               + I2                                     O              + 2 H+ + 2I-

=O                                                       =O

OH  OH                                              O     O

Reaksi Indikator

CH2OH                                  CH2OH

H                 O      H                            H                 O     H

H                                            H                       + I2

O     OH     H                O              OH     H    O

H        OH                              H        OH        n

Amilum                                               Iod

Larutan bening

CH2OH                                  CH2OH

H                 O      H                   I        H                 O     H

H                                            H

O     OH     H                O              OH     H    O

H        OH              I               H        OH        n

Kompleks iodium dengan amilum

Endapan biru

  1. Penentuan kadar CuSO4

Setengah reaksi

ø    2 Cu2+ + 2e-                             2 Cu+

2 I-                                           I2 + 2 e-

2 Cu2+ + 2 I-                            2 Cu+ + I2

ø    2 S2O3=                                    S4O6= + 2e-

I2 + 2 e-                                    2 I-

2 S2O3= + I2                             S4O6= + 2 I-

2 CuSO4 + 4 KI                           2 CuI   + I2      + 2 K2SO4

putih

I2 + 2 Na2S2O3                              2 NaI   + Na24O6

Reaksi Indikator

CH2OH                                  CH2OH

H                 O      H                            H                 O     H

H                                            H                       + I2

O     OH     H                O              OH     H    O

H        OH                              H        OH        n

Amilum                                               Iod

Larutan bening

CH2OH                                  CH2OH

H                 O      H                   I        H                 O     H

H                                            H

O     OH     H                O              OH     H    O

H        OH              I               H        OH        n

Kompleks iodium dengan amilum

Endapan biru

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada percobaan ini dilakukan penetapan kadar Vitamin C dan kristal tembaga (II) sulfat dengan menggunakan metode titrimetri berdasarkan reaksi redoks. Reaksi redoks merupakan reaksi merupakan reaksi yang menyebabkan naik dan turunnya bilangan oksidasi reduksi. Larutan baku yang digunakan adalah larutan I2 0,1 N dan Na2S2O3 yang akan direaksikan dengan suatu asam sebagai katalisator. Indikator yang digunakan adalah indikator larutan kanji Titik akhir titrasi ditandai dengan tepat hilangnya endapan biru tua. Sampel yang digunakan pada percobaan ini adalah Vitamin C dan CuSO4.

Titrasi iodometri adalah salah satu metode titrasi yang didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi. Pada percobaan ini metode iodometri dilakukan pada CuSO4. Sedangkan Iodimetri adalah jika titrasi terhadap zat-zat reduktor dengan titrasi langsung dan tidak langsung. Dilakukan percobaan ini untuk menentukan kadar zat-zat oksidator secara langsung, seperti yang kadar terdapat dalam serbuk vitamin C.

Pada percobaan ini dapat dilakukan tanpa menggunakan indikator dari luar, karena larutan I2 sendiri berwarna sehingga akan memberikan titik akhir berupa hilangnya endapan biru.

Pada percobaan ini digunakan air bebas CO2, karena CO2 dapat mengoksidasi Vitamin C sehingga titik akhir titrasi menjadi lebih dekat (volume I2 yang digunakan semakin sedikit). Pada percobaan ini juga digunakan asam sulfat dan asam asetat, sebagai katalisator agar reaksi oksidasi reduksi dapat berjalan lebih cepat.

Pada titrasi iodometri titrasi harus dalam keadaan asam lemah atau nertal karena dalam keadaan alkali akan terbentuk iodat yang terbentuk dari ion hipoiodit yang merupakan reaksi mula-mula antara iodin dan ion hidroksida, sesuai dengan reaksi :

I2 + O2                                     HI + IO-

3 IO-                                  IO3- + 2 I-

Dalam keadaan alkali ion-ion ini akan mengoksidasi sebagian tiosulfat menjadi ion sulfat sehingga titik kesetaraannya tidak tepat lagi. Namun pada proses iodometri juga perlu dihindari konsentrasi asam yang tinggi karena asam tiosulfat yang dibebaskan akan mengendap dengan pemisahan belerang, sesuai dengan reaksi berikut :

S2O3= + 2 H+                           H2S2O3

8 H2S2O3                                 8 H2O + 8 SO2 + 8 S

Indikator kanji merupakan indikator yang sangat lazim digunakan, namun indikator kanji yang digunakan harus selalu dalam keadaan segar dan baru karena larutan kanji mudah terurai oleh bakteri sehingga untuk membuat larutan indikator yang tahan lama hendaknya dilakukan sterilisasi atau penambahan suatu pengawet.

Pada percobaan ini didapatkan hasil bahwa kadar Vitamin C adalah 107,395 %. Sedangkan kadar kristal tembaga (II) sulfat adalah 130,5 %. Berdasarkan hasil perhitungan ini maka dapat disimpulkan bahwa serbuk Vitamin C tidak memenuhi  syarat kemurnian sebagai bahan obat, sebagaimana yang tertulis dalam literatur (FI III). Sedangkan untuk kristal tembaga (II) sulfat juga tidak memenuhi persyaratan kemurnian sebagaimana yang tertulis dalam Farmakope Indonesia.

Adapun faktor-faktor yang dapat salah pengamatan dalam melakukan percobaan ini adalah :

  1. Larutan I2 yang digunakan sudah banyak yang menguap atau tereduksi menjadi I-.
  2. Larutan kanji yang digunakan sudah tidak bagus lagi, karena endapan yang terlihat agak kehitaman.

BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari percobaan ini adalah

  1. Kadar kemurnian Vitamin C adalah 107,395 %, tidak memenuhi persyaratan kadar yang terdapat dalam Farmakope Indonesia edisi III.
  2. Kadar kemurnian tembaga (II) sulfat adalah 130,5 %, tidak memenuhi persyaratan kadar yang terdapat dalam Farmakope Indonesia edisi III.

V.2 Saran

Sebaiknya dilakukan penetapan kadar sampel tablet vitamin C

DAFTAR PUSTAKA

  1. Rivai, H., (1995), “Asas Pemeriksaan Kimia”, Universitas Indonesia Press, Jakarta,
  2. Wunas, J., Said, S., (1986), “Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif”< UNHAS, Makassar, 122-123
  3. Underwood, A.L., day, RA., (1993), “Analisa Kimia Kuantitatif”, Edisi V, Alih Bahasa : R. Soedonro, Erlangga, Surabaya, 302-304
  4. Roth, J., Blaschke, G., (1988), “Analisa Farmasi”, UGM Press, Yogyakarta, 271-279.
  5. Dirjen POM, (1979), “Farmakope Indonesia”, edisi III, Departemen Kesehatan RI., Jakarta, 143, 581, 587, 714
  6. Dirjen POM, (1994), “Farmakope Indonesia”, edisi IV, Depatemen Kesehatan RI., Jakarta

kecewa

malam ini, puncak dari segalanya , aku kecewa.. T_T kenapa mrk org2 terdekatku tdk ada disampingku saat aku lg sedih, biarpun itu tmn angkatanku sndr tdk ada.. yg menghibur hny bbrp .. Kalian dmana semua ? kalian egois.. skrg aku lbh dkt bahkan mencoba untuk mnjd bagian dari kakak-kakak dari pada kalian !! T_T aku benci keegoisan kalian  !!

:’( .. aku sakarang menangis, walaupun td sempat tertawa, tp dlm hati ini aku menangis.. skrg sdh sampai dirumah aku bs menangis sepuasnya… Kalian teman angkatanku jahat… selamat menikmati keegoisa kalian semua T_T

22 januari 2012

lelah .. ku rasakan .. tapi bahagia, walau capek dgn perkejaan itu, tp senang, bisa bersama mereka semua,, akhirnya aku biasa tertawa lepas.. tanpa memikirkan si dia yang mgkn tlah melupakanku. Walau begitu, dalam lubuk hati ini mengatakan , bahwa aku masih sangat mencintaimu MH…

untuk teman2ku, aenior2ku, tetap semangat menjalani kegiatan ini .. Yakusa,,

laporan lengkap alat dan medium

BAB I

PENDAHULUAN

I.1    Latar Belakang

Mikrobiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang mikroba, dimana mikroba merupakan jasad hidup yang sangat kecil ukurannya, sukar diamati tanpa bantuan alat pembesaran seperti mikroskop.

Penyelidikan suatu spesies mikroba selalu berdasarkan atas penyelidikan sifat biakan murni dari spesies mikroba. Untuk memelihara dan memisahkan suatu kegiatan dan jenis mikroba yang satu dengan yang lainnya diperlukan alat dan medium yang steril. Artinya pada bahan atau peralatan tersebut tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang akan mengganggu/merusak media ataupun mengganggu mikroorganisme kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan.

Untuk dapat mengenal dan menggunakan alat-alat dan medium tersebut, maka praktikan harus mengetahui jenis alat, cara mensterilkan dan cara kerja alat dan medium tersebut. Oleh karena itu, praktikum tentang pengenalan alat dan medium ini dilakukan. Melalui percobaan ini diharapkan praktikan dapat mengetahui alat-alat yang terdapat dalam laboratorium mikrobiologi serta prinsip kerja dan kegunaannya masing-masing, serta medium-medium yg digunakan dalam laboratorium mikrobiologi .


I.2    Maksud dan Tujuan Percobaan

 

I.2.1     Maksud Percobaan

Untuk mengetahui dan memahami alat-alat yang digunakan dalam laboratorium Mikrobiologi Farmasi serta prinsip kerjanya.

Mengetahui dan memahami medium yang akan digunakan dalam laboratorium Mikrobiologi Farmasi serta cara pertumbuhannya .

I.2.2     Tujuan Percobaan

  1. Mengetahui dan memahami fungsi, cara pengunaan, cara mensterilkan dan prinsip kerja dari alat-alat yang digunakan dalam laboratorium mikrobiologi farmasi.
  2. Mengetahui dan memahami cara membuat medium NA (Nutrient Agar), NB (Nutrient Broth), PDA (Potato Dekstrose Agar), PDB (Potato Dekstrose Broth), dan TEA (Touge Ekstrak Agar).

I.3    Prinsip Percobaan

  1. Pengenalan seluruh alat-alat yang terdapat pada laboratorium mikrobiologi farmasi berdasarkan kegunaannya, prinsip kerja, dan prinsip sterilisasinya.
  2. Pembuatan medium NA (Nutrient Agar), NB (Nutrient Broth), PDA (Potato Dekstrose Agar), PDB (Potato Dekstrose Broth), dab TEA (Touge Ekstrak Agar) dengan cara menimbang, mencampur, memanaskan, menyaring serta sterilisasi media pada suhu 1210C dan tekanan 2 atm selama 15 menit.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1   Teori Umum

 

Untuk mengetahui dan mengungkapkan wujud dan sifat struktur dari mikroorganisme diperlukan alat-alat tertentu untuk membantu seperti mikroskop. Teknik mikroskopi terutama mikroskop elektron dengan metode tertentu dapat digunakan untuk mempersiapkan material biologik (1)

Penggunaan alat dalam praktikum mikrobiologi umum dapat dibagi dalam alat gelas, penggunaan autoclave, penggunaan oven, dan penggunaan alat-alat lain seperti enkas, coloni counter, spektrofotometer. Bahan ataupun peralatan yang dipergunakan di dalam bidang mikrobiologi, harus dalam keadaan steril. Artinya pada bahan atau peralatan tersebut tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang akan mengganggu/merusak media ataupun mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan (2).

Yang dimaksud dengan sterilisasi dalam mikrobiologi ialah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Salah satu cara sterilisasi yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologis akan menjadi rusak bila dibakar. Untungnya tersedia berbagai metode lain yang efektif (3).

Alat-alat yang sering digunakan dalam laboratorium mikrobiologi umum terbagi atas:

1)    Alat-alat gelas antara lain:

  1. Ose bulat digunakan untuk menanam mikroba dengan cara menggores permukaan medium agar cawan.
  2. Ose lurus digunakan untuk menanam mikroba dengan cara menusuk pada medium agak tegak.
  3. Cawan petri digunakan sebagai tempat membiakkan mikroba yang akan diamati pada medium padat.
  4. Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat untuk membiakkan bakteri atau menyimpan medium yang berupa zat cair atau zat padat.
  5. Pipet tetes adalah pipet yang digunakan untuk pengambilan zat-zat yang berupa cairan.
  6. Gelas piala berfungsi untuk mengukur bahan-bahan dan mencampurkan bahan-bahan.
  7. Bunsen adalah sterilisasi berupa pemijaran alat misalnya pada ose.
  8. Labu Erlenmeyer digunakan untuk mencampur bahan-bahan medium yang akan dibuat atau sebagai tempat medium.
  9. Tabung durham berfungsi untuk menampung gas hasil permentasi.
  10. Gelas ukur digunakan untuk mengukur bahan-bahan yang akan digunakan.
  11. Batang pengaduk digunakan untuk mengaduk atau mancampur medium.

2)    Alat-alat non gelas antara lain:

  1. Sendok tanduk adalah alat untuk mengambil zat yang berupa serbuk,terdiri dari dua sendok pada masing-masing ujungnya salah satunya berukuran kecil dan lainnya besar.
  2. Rak tabung adalah alat untuk menyimpan tabung reaksi.
  3. Spoit adalah alat untuk mengambil / memindahkan cairan.
  4. Botol semprot adalah sebagai tempat penyimpanan air suling dan digunakan pula pada proses pewarnaan mikroba.

3)    Alat-alat elektrik antara lain:

  1. Autoklaf adalah alat yang digunakan untuk mensterilkan alat-alat yang tidak tahan panas dan juga digunakan untuk mensterilkan medium menggunakan uap air bersuhu 1210C selama 15-30 menit.
  2. Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk pendugaan jumlah mikroba yang didasarkan pada banyaknya cahaya (spektrum) yang mampu diserapnya.
  3. Shaker adalah alat yang digunakan untuk menghomogenkan pertumbuhan mikroba pada medium cair  agar kebutuhan O2 dapat terpenuhi.
  4. Colony counter adalah alat untuk menghitung jumlah koloni mikroba yang tumbuh dalam cawan petri.
  5. Oven adalah alat untuk sterilisasi alat yang tahan terhadap suhu tinggi, menggunakan panas kering pada suhu 1800C selama 2 jam.
  6. Inkubator adalah alat untuk menginkubasi mikroba dengan suhu yang sesuai dengan suhu optimum pertumbuhan mikroba.

4)    Alat-alat tambahan, antara lain:

Enkas adalah alat yang digunakan untuk kegiatan inokulasi dan isolasi agar berlangsung secara aseptis.

Metode sterilisasi

a)    Sterilisasi secara fisik

Sterilisasi secara fisik dibedakan atas 3 (tiga) macam,yaitu:

(1)  Sterilisasi dengan pemijaran

Untuk alat yang tahan panas tinggi, misalnya sterilisasi ose yang terbuat dari platina. Caranya adalah dengan membakar langsung alat tersebut diatas api lampu spiritus sampai berpijar.

(2)  Sterilisasi dengan udara panas kering

Untuk sterilisasi peralatan gelas yang tahan terhadap panas. Caranya adalah digunakan dengan suhu sekitar 1000C-1700C selama kurang lebih 2-3 jam.

(3)  Sterilisasi secara basah

Sterilisas yang dapat membunuh mikroorganisme karena panas basah dapat menyebabkan denaturasi protein termasuk enzim-enzim di dalam sel mikroorganisme.

Sterilsasi basah terbagi atas:

  1. Perebusan
  2. Pemanasan dan tekanan
  3. Tindalisasi
  4. Pasteurisasi

Keuntungan : mikroba apapun akan mati akibat pemanasan.

Medium adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba. Selain untuk pembuatan mikroba, medium dapat pula digunakan untuk melakukan isolasi, memperbanyak, pengujian sifaf-sifat fisiologi dan perhitungan mikroba, sehingga pembuatan medium itu harus sesuai komposisi dan tujuan penanamannya, serta cara pembuatan medium itu harus dengan baik agar medium yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.

Sebelum dapat menumbuhkan mikroorganisme dengan baik,pertama-tama harus dapat memahami kemampean dasarnya terlebih dahulu, lalu mencoba memformulasikan suatu medium. Meskipun persyaratan medium beragam, namun sebagai mahluk hidup, mikroba juga memerlukan kebutuhan dasar yang sama meliputi air, karbon, energi, mine Medium dapat diklasifikasikan berdasarkan atas susunan kimia, konsistensi dan fungsinya, meliputi :

  1. Berdasarkan bahan yang digunakan

@ Medium alamiah (substrat), yaitu medium yang terdiri dari bahan-bahan alam, seperti sari buah, wortel, jagung dan bahan alamiah lainnya.

@ Medium semi alamiah, yaitu medium yang terdiri dari bahan alamiah yang ditambah dengan senyawa-senyawa kimia.

@ Medium buatan atau medium sistetis, yaitu medium yang terdiri dari senyawa-senyawa kimia yang komposisi dan jumlahnya sudah sitentukan.

  1. Berdasaekan susunan kimianya

@ Medium anorganik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan anorganik.

@ Medium sintetik, yaitu medium yang susunan kimianya dapat diketahui dengan pasti. Medium ini biasanya digunakan untuk mempelajari kebutuhan makanan mikroba.

@ Medium organik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan organik.

@ Medium non sintetik, yaitu medium yang susunan kimianya tidak dapat ditentukan dengan pasti. Medium ini banyak digunakan untuk menumbuhkan dan mempelajari taksonomi mikroba.

  1. Berdasarkan konsistensinya

@ Medium padat (solid medium) yaitu medium yang berbentuk agar, umumnya ditambahkan dengan agar.

@ Medium cair (liquid medium), yaitu medium yang berbentuk cair karena tidak mengandung agar.

@ Medium setengah padat (semi solid medium), yaitu medium yang ditambahkan bahan pemadat sebanyak 50 %, digunakan untuk melihat gerakan dari mikroorganisme.

  1. Berdasarkan fungsinya

@ Meduim , yaitu medium yang dapat ditumbuhi obeh banyak jenis mikroba.

@ Medium diperkaya, (enrichment medium), yaitu medium yang ditambah zat-zat tertentu (misalnya serum darah, ekstrak tumbuh-tumbuhan dan lain-lain) sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof tertentu.

@ Medium selektif (selective medium), yaitu medium yang ditambahkan zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain.

@ Medium diferensial, yaitu medium yang ditambahkan zat kimia tertentu yang menyebabkan suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat dibedakan tipe-tipenya.

@ Medium penguji (essay medium), yaitu medium dengan susunan tertentu yang digunakan untuk pengujian dari vitamin-vitamin, asam amino dan antibiotik dan lainnya.

@ Medium untuk perhitungan jumlah mikroba, yaitu medium spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah dari bakteri Actinomycetes dan lain-lain.

@ Medium khusus, yaitu medium untuk menentukan pertumbuhan mikroba dan kemampuannya mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu.

ral dan faktor tanah.

II.2   Uraian Bahan 

  1. Aquadest

Nama resmi  :   Aqua Destillata

Sinonim         :   Aquadest / Air Suling

RM / BM         :   H2O / 18,02

Pemerian      :   Cairan jernih, tidak berwarna. Tidak berasa, tidak berbau.

Penyimpanan  :      Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan     :   Sebagai pelarut

  1. Agar-agar

Nama resmi  :   Agar

Pemerian      :   Berkas potongan memanjang, tipis seperti selaput dan berlekatan atau berbentuk tepung, serpih atau butiran jungga lemah kekuningan, abu-abu kekuningan hingga pucat, jika lembab liat, juka kuning akan rapuh.

Kelarutan      :   Praktis tidak larut dalam air, larut dalam air mendidih.

Penyimpanan  :      Dalam wadah tertutup baik.

  1. Dekstrosa

Nama resmi  :   Dextrosum

Sinonim         :   Dekstrosa

RM / BM         :   C6H12O6.H2O / 180,16

Pemerian      :   Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau serbuk granul putih, tidak berbau, rasa manis.

Kelarutan      :   Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, larut dalam etanol mendidih, sukar larut dalam etanol.

Penyimpanan  :      Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan     :   Sebagai komponen pembuat medium PDA

  1. Pepton

Nama resmi  :   Pepton

Pemerian      :   Serbuk, kuning kemerahan hungga coklat, bau khas, tapi tidak busuk.

Kelarutan      :   Larut dalam air, membentuk larutan coklat kekuningan, bereaksi sedikit asam, tidak larut dalam etanol dan dalam eter.

Penyimpanan  :      Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan     :   Sebagai komponen pembuat medium PDA

  1. Sukrosa

Nama resmi  :   Sucrosum

Sinonim         :   Sakarosa

RM / BM         :   C12H22O11 / 342,30

Pemerian      :   Hablur putih atau tidak berwarna, massa hablur atau berbentuk kubus atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa manis, stabil di udara. Larutannya netral terhadap lakmus.

Kelarutan      :   Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih, sukar dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam eter.

Penyimpanan  :      Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan     :   Sebagai komponen pembuat medium TEA.

  1. Ekstrak daging

Kaldu daging sapi konsentrat diperoleh dengan mengekstraksi daging sapi segar tanpa lemak, dengan cara merebus dalam air dan menguapkan kaldu pada suhu rendah dalam hampa udara sampai terbentuk residu kental berbentuk pasta.

Pemerian      :   Massa berbentuk pasta, berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua, bau dan rasa seperti daging, sedikit asam.

Penyimpanan  :      Wadah tidak tembus cahaya, tertutup rapat.

 

BAB III

METODE KERJA

 

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat

              Alat yg diperkenalkan pada praktikum ini adalah autoklaf, batang pengaduk, botol semprot, Bunsen, cawan petri, deg glass, enkas, Erlenmeyer, gelas piala, gelas ukur, jarum preparat, kompor, object glass, ose bulat,ose lurus, pipet tetes, rak tabung, sendok tanduk, spoit, tbung durham, tabung reaksi besar dan kecil, timbangan analitik .

III.1.2 Bahan

Bahan-bahan yg digunakan dalam laboratorium Mikrobiologi Farmasi antara lain aquadest, adar, dextrose, pepton, sukrosa, kentang, dam tauge .

III.2 Cara kerja

 

III.2.1 Pengenalan alat

              Alat-alat yg diperkenalkan dalam laboratorium di gambar lengkap dengan bagian-bagiannya,keguanaanya,dan prinsip kerjanya .

III.2.2 Pembuatan medium

  1. Pembuatan medium NA

-          Disiapkan alat dan bahan

-          Di timbang NA

-          Ekstrak daging, pepton, dan agar di masukkan dalam Erlenmeyer, di tambahkan aquades, kemudian di tutup dengan kapas

-          Panaskan hingga mendidih dan larut

-          Di sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121˚C

  1. Pembuatan medium NB sebanyak 250ml

-          Di siapkan alat dan bahan

-          Ditimbang NB sebanyak 2 gram

-          Ektrak daging dan pepton di masukkan dalam Erlenmeyer di tambahkan aquades 250ml, kemudian ditutup dengan kapas

-          Panaskan hingga mendidih dan larut

-          Di sterilkan dalam autoklaf pd suhu 121˚C

  1. Pembuatan medium PDA

-          Kentang di potong kecil-kecil

-          Dimasukkan kentang kedalam beaker, direbus hingga mendidih dan lunak

-          Disaring dengan kapas unutk mendapatkan ekstraknya ke Erlenmeyer

-          Di larutkan dalam dekstrosa dan alat dalam larutan aquades

-          Disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121˚C

  1. Pembuatan medium PDB 250ml

-          Disiapkan alat dan bahan

-          Kentang di potong dadu

-          Ditimbang masing-masing bahan

-          Dimasukkan kentang dalam beaker dan direbus hingga lunak

-          Diambil air rebusan dan dimasukkan dalam Erlenmeyer

-          Dilarutkan dextrose dalam larutan aquades

-          Disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121˚C

BAB IV

HASIL PENGAMATAN

 

IV.1 Gambar Alat

 

Keterangan:

Keterangan :

Keterangan :


Keterangan :


 

Keterangan :

Keterangan :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

Keterangan :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

Keterangan :

  1. Tabung spritus
  2. Sumbu
  3. Penutup sumbu

Keterangan :

A. Spoit

  1. Karet pengisap
  2. Jarum
  3. Skala

B. Pipet skala

  1. Karet pengisap
  2. Skala

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

  1. Pengatur suhu
  2. Lampu indikator suhu
  3. Termometer
  4. Tombol On/Off
  5. Rak
  6. Pintu inkubator
  7. Pengatur waktu
  8. Lampu indikator waktu
  9. Steker

Keterangan :

  1. Tombol On/Off
  2. Pengatur suhu
  3. Penunjuk suhu
  4. Pengatur tekanan
  5. Vacum
  6. Purge
  7. Pintu incubator
  8. Lampu indicator
  9. Steker

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

  1. Lup pembesar
  2. Tombol On/Off
  3. Tempat sampel
  4. Penunjuk angka
  5. Steker

Keterangan :

  1. Lubang/hole
  2. Badan
  3. Kaca
  4. Pegangan

 

 

 

 

 


Keterangan :

  1. Sumber cahaya
  2. Kuvet
  3. Zero set
  4. Pengatur panjang gelombang
  5. Penunjuk panjang gelombang
  6. Penunjuk nol
  7. Pengkalibrasi
  8. Tpmbol On/Off
  9. Layar
  10. Steker

Keterangan :

  1. Gelas
  2. Corong
  3. Penjepit
  4. Gelas bawah
  5. Filter
  6. Karet


Keterangan :

  1. Penunjuk tekanan
  2. Penutup
  3. Klep pengatur uap
  4. Tombol On/Off
  5. Lampu indikator
  6. Voltage
  7. Selang uap
  8. Dinding otoklaf
  9. Steker

Keterangan :

  1. Tempat wadah/erlenmeyer
  2. Papan shaker
  3. Steker


Keterangan :

  1. Tempat sample
  2. Nomor wadah
  3. Poros putaran
  4. Lampu indikator
  5. Tombol On/Off
  6. Pengatur waktu
  7. Lampu UV
  8. Steker

Keterangan :

  1. Cawan Petri
    1. Wadah
    2. Penutup
    3. Botol pengenceran
      1. Mulut botol
      2. Dinding botol


 


 

IV.2  Tabel Hasil Pengamatan

No

Medium

Warna

Konsistensi

1.

Nutrien Agar (NA)

Kuning pucat

Padat

2.

Nutrien Broth (NB)

Coklat

Cair

3.

Tauge Ekstrak Agar (TEA)

Coklat muda

Padat

4.

Potato Dekstrosa Agar (PDA)

Putih susu

Padat

5.

Potato Dekstrosa Agar (PDA) Sintetik

Kuning

Padat

6.

Potato Dekstrosa Broth (PDB)

Putih kuning

Cair

 

IV.3 Gambar medium

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PEMBAHASAN

 

Medium merupakan bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba. Medium yang dibuat dalam percobaan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan mikroba. Oleh karena itu, proses pembuatannya dilakukan dalam kondisi steril. Dalam percobaan ini medium yang dibuat ada 2 macam berdasarkan konsistensinya, yaitu medium padat dan medium cair.

Nutrien Agar (NA) merupakan medium padat dilihat dari konsistensinya.  Berdasarkan fungsinya termasuk dalam medium umun yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri, dimana bahan-bahannya terdiri dari :

@  Aquadest berfungsi melarutkan bahan-bahan yang telah dicampurkan.

@  Agar merupakan zat pemadat/pengeras medium yang bukan sebagai bahan makanan mikroba.

@  Ekstrak daging, merupakan ramuan dasar dalam media biakan yang larut dalam air dan berfungsi sebagai sumber protein dan mineral.

@  Pepton adalah protein yang terdapat pada susu kedelai, putih telur. Pepton banyak mengandung nitrogen sehingga baik digunakan sebagai bahan dalam pembuatan medium.

Nutrien Broth (NB) merupakan medium cair dilihat dari konsistensinya.  Berdasarkan fungsinya termasuk dalam medium umun yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri, dimana bahan-bahannya terdiri dari :

@  Aquadest berfungsi melarutkan bahan-bahan yang telah dicampurkan.

@  Ekstrak daging, merupakan ramuan dasar dalam media biakan yang larut dalam air dan berfungsi sebagai sumber protein dan mineral.

@  Pepton adalah protein yang terdapat pada susu kedelai, putih telur. Pepton banyak mengandung nitrogen sehingga baik digunakan sebagai bahan dalam pembuatan medium.

Potato Dekstrosa Agar (PDA) merupakan medium padat dilihat dari konsistensinya. Berdasarkan fungsinya termasuk dalam medium umun yang digunakan untuk menumbuhkan jamur, dimana bahan-bahannya terdiri dari :

@  Aquadest berfungsi melarutkan bahan-bahan yang telah dicampurkan.

@  Agar merupakan zat pemadat/pengeras medium yang bukan sebagai bahan makanan mikroba.

@  Kentang merupakan sumber karbohidrat bagi mikroba, tapi memiliki kekurangan yaitu substrat tidak tembus cahaya sehingga sulit untuk menentukan koloni bakteri dan jamur.

@  Dekstrosa merupakan sumber karbon dan energi untuk pertumbuhan aerob.

Potato Dekstrosa Broth (PDB) merupakan medium cair dilihat dari konsistensinya. Berdasarkan fungsinya termasuk dalam medium umun yang digunakan untuk menumbuhkan jamur, dimana bahan-bahannya terdiri dari :

@  Aquadest berfungsi melarutkan bahan-bahan yang telah dicampurkan.

@  Kentang merupakan sumber karbohidrat bagi mikroba, tapi memiliki kekurangan yaitu substrat tidak tembus cahaya sehingga sulit untuk menentukan koloni bakteri dan jamur.

@  Dekstrosa merupakan sumber karbon dan energi untuk pertumbuhan aerob.

Tauge Ekstrak Agar (TEA) merupakan medium padat dilihat dari konsistensinya. Berdasarkan fungsinya termasuk dalam medium umun yang digunakan untuk menumbuhkan khamir, dimana bahan-bahannya terdiri dari :

@  Aquadest berfungsi melarutkan bahan-bahan yang telah dicampurkan.

@  Agar merupakan zat pemadat/pengeras medium yang bukan sebagai bahan makanan mikroba.

@  Tauge sebagai sumber energi dan bahan mineral bagi suatu mikroba.

@  Sukrosa berfungsi sebagai sumber karbohidrat dan sumber energi bagi mikroba.

Agar digunakan sebagai pemadat karena tidak diuraikan oleh mikroorganisme dan juga karena sifat kimianya, dimana agar tidak larut dalam air dingin akan tetapi sangat mudah larut dalam air mendidih, lalu jika melarut maka akan segera memadat kembalipada suhu kamar tanpa adanya perlakuan khusus. Kandungan agar sebagai bahan pemadat dalam medium adalah 1,5 – 2 %.

Dalam membuat suatu medium, harus dipenuhi semua kubutuhan yang diperlukan oleh mikroba untuk dapat tumbuh, baik bakteri maupun kapang/khamir dan harus disesuaikan dengan jenis mikroba yang akan ditumbuhkan seperti medium padat umumnya digunakan untuk pertumbuhan bakteri sedangkan medium cair umumnya untuk pertumbuhan bakteri coliform. Medium padat juga dapat digunakan untuk menumbuhkan kapang/khamir, misalnya PDA. Selain kandungan itu, factor lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi steril. Alat maupun medium yang akan digunakan untuk menumbuhkan mikroba harus disterilkan terlebih dahulu dalam otoklaf agar tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan. Sterilisasi dengan menggunakan otoklaf dilakukan pada suhu 121 0C selama + 15 menit. Karena pada suhu ini mikroba akan mengalami denaturasi atau koagulasi, sehingga mikroba yang tidak diharapkan tersebut akan mati.

 

Penengetahuan mengenai alat-alat yang digunakan dalam laboratorium mikrobiologoi yang berhubungan erat dengan mikroorganisme sangat diperlukan. Hal ini diperlukan untuk menghindari hal-hal yang dapat merugikan baik bagi kita sendiri maupun orang lain uang ada disekitar kita. Karena berhubungan dengan mikroorbanisme dan alat-alatnya yang sebagian terdiri dari bahan gelas, maka diperlukan pengetahuan khusus tentang penggunaan alat-alat tersebut.

Masing-masing dari alat-alat tersebut memiliki prinsip kerja yang berbeda. Alat-alat yang digunakan tersebut antara lain :

Alat-alat untuk inkubasi :

@ Inkubator aerob

Digunakan untuk menginkubasi bakteri-bakteri aerob sesuai masa inkubasi dan suhu pertumbuhannya. Bakteri yang ada dimasukkan kedalam inkubator, kemudian diatur sehu dan lamanya inkubasi. Suhu pertumbuhan bakteri umumnya sekitar 37 oC selama   1 sampai 2 x 24 jam.

@ Inkubator anaerob

Digunakan untuk menginkubasi bakteri-bakteri anaerob sesuai masa inkubasi dan suhu pertumbuhannya. Prinsip kerjanya sama seperti inkubator aerob, tapi disini udara yang ada dalam inkubator diisap keluar, sehingga menjadi vakum.

Alat-alat untuk sterilisasi :

@ Oven

Digunakan sebagai alat sterilisasi dengan menggunakan panas yang tinggi. Digunakan untuk mensterilkan alat-alat yang tahan pemanasan tinggi. Suhu yang digunakan antara 170 – 250 oC selama 2 jam.

@ Otoklaf

Berfungsi sebagai alat sterilisasi melalui uap panas bertekanan. Alai ini digunakan untuk mensterilkan alat-alat atau bahan yang tidak tahan terhadap pemanasan yang tinggi, alat yang berskala serta medium. Prinsip kerjanya pada sampel, mengkoagulasi protein bakteri. Suhu steril adalah 121 oC selama 15 – 30 menit. Waktu sterilisasi dihitung saat sehu dan tekanan yang diatur dalam otoklaf telah tercapai.

Alat-alat untuk kerja aseptis :

@ LAF (Laminar Air Flow)

Digunakan untuk pengerjaan secara aseptis. Udara dari dalam mengalir keliar secara laminar (lurus/beraturan) secara horizontal, sehingga kontaminasi udara dapat diminimalkan.

@ Enkas

Digunakan untuk pengerjaan secara aseptis dengan prinsip kerja memasukkan sampel atau mikroba yang sedang dikerjakan dalam ruang kaca tertutup. Sebelum digunakan terlebih dahulu disemprotkan dengan alkohol 70 % atau fenol 5 %.

 

Alat-alat untuk perhitungan kuantitatif mikroba :

@ Colony counter

Digunakan untuk menghitung mikroba yang tumbuh dalam cawan petri, dengan cara menghitung secara manual dengan bantuan kaca pembesar dan cahaya. Terdiri dari kaca pembesar, parameter penunjukan jumlah dan wadah sampel.

@ Spektrofotometer

Digunakan untuk mengukur absorben dari suatu larutan sampel berdasarkan panjang gelombang dengan besar yang tertentu, sehingga dapat diketahui kadar atau jenis sampel tersebut. Prinsip kerjanya, cahaya polikromatik dari sumber cahaya dilewatkan pada monokromator kemudian intensitas cahaya () dipilih yang sesuai. Hanya ada satu cahaya yang akan mengenai kuvet yang berisi sampel. Cahaya tersebut ada yang diserap oleh sampel dan ada yang diteruskan. Cahaya yang diteruskan ini tertangkap oleh detektor dan diperkuat oleh amplifier dan diteruskan pada layar. Inilah yang terbaca sebagai nilai absorban atau transmitan

@ Mikroskop

Digunakan untuk mengamati mikroba. Dapat diatur untuk digunakan dengan pembesaran tertentu. Prinsip kerjanya sampel yang terletak pada kaca objek disinari cahaya dari bawah, lalu bayangannya ditangkap oleh lensa objektif. Selanjutnya bayangan ini diteruskan ke lensa okuler yang terdapat diatasnya. Bayangan pada lensa okuler inilah yang dapat kita lihat.

 

 

Alat-alat untuk mengukur secara kuantitatif :

@ Pipet gondok dan pipet skala

Pipet gondok digunakan untuk mengukur larutan dalam volume tertentu. Pada alat ini terdapat angka-angka / skala yang menunjukkan volume larutan yang diukur, misalnya     1 ml, 5 ml, 10 ml, 25 ml, dan lainnya. Biasanya digunakan dengan bantuan karet pengisap. Jika larutan yang diukur tidak berbahaya seperti aquadest dapat diisap dengan menggunakan mulut dengan disumbat kapas.

Pipet skala penggunaannya sama seperti pipet volum, tapi volume yang dapat diukur lebih sedikit yaitu maksimal 1 ml. Skala yang tertulis hanya 3 yaitu 0, 0,5 dan 1 ml.

@ Labu ukur

Alat ini digunakan dalam pengenceran larutan dalam jumlah yang dapat dipastikan kuantitasnya. Skala yang tertulis hanya satu. Biasanya larutan diencerkan dengan lautan pembawanya, jika tidak dinyatakan lain adalah aquadest sampai batas garis yang terdapat pada leher labu. Skala yang tersedia antara lain 5 ml, 10 ml, 15 ml, 25 ml, 50 ml,    100 ml, 250 ml, 500 ml dan 1000 ml.

Alat-alat untuk mengukur secara kualitatif :

@ Pipet volum

Pipet volum digunakan untuk mengukur larutan dalam volume tertentu. Pada alat ini terdapat angka-angka / skala yang menunjukkan volume larutan yang diukur. Bedanya dengan pipet gondok, pipet volum memiliki banyak skala sedangkan pipet gondok hanya satu skala. Digunakan dengan bantuan karet pengisap.

@ Gelas piala / Gelas kimia (Beker glass)

Biasanya digunakan untuk melarutkan zat atau bahan dalam bentuk serbuk. Kelebihannya karena memiliki mulut yang besar sehingga memudahkan pengadukan menggunakan batang pengaduk dan bibir kecil dibagian tepi mulut sehingga memudahkan untuk menuang larutan. Kekurangannya karena mulutnya terlalu besar, sehingga mudah terkontaminasi oleh mikroba dibandingkan dengan erlenmeyer. Gelas kimia ini tersedia dalam beberapa volume diantaranya 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 500 ml dan 1000 ml.

@ Gelas ukur

Digunakan sebagai pengukur secara kualitatif karena memiliki banyak skala, sehingga pengukurannya tidak terlalu pasti. Tersedia dalam beberapa ukuran diantaranya 10 ml, 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 500 ml dan 1000 ml.

@ Erlenmeyer

Penggunaannya sama seperti gelas kimia, hanya saja erlenmeyer dapat juga digunakan sebagai wadah larutan untuk inkubasi karena memiliki mulut yang kecil, sehingga mudah ditutup dengan kapas.

@ Spoit

Digunakan untuk mengambil sampel berupa cairan.

Alat-alat untuk penyaringan atau pemisahan :

@ Sentrifuge

Digunakan untuk memisahkan filtrat dan residu atau cairan dari padatannya untuk menghomogenkan suatu campuran berdasarkan kecepatan putaran sentrifuge yang dapat diatur.

@ Filter bakteri

Digunakan untuk sterilisasi secara mekanik dan digunakan untuk bakteri / bahan yang mudah teroksidasi pada suhu tinggi misalnya antibiotik. Prinsip kerjanya berdasarkan tekanan udara vakum.

Alat-alat lain :

@ Pencadang

Digunakan sebagai tempat sampel yang diletakkan diatas sampel. Ukuran diameter dalam 6 nm, diameter kuar 8 nm dan tinggi 10 nm.

@ Cawan petri

Digunakan untuk menumbuhkan mikroba, yang disi dengan medium yang cocok untuk pertumbuhan mikroba tersebut dan sampel. Disterilkan menggunakan oven jika masih kosong dan di otoklaf jika telah berisi mikroba.

@ Ose

Digunakan untuk memindahkan mikroba dengan cara ditusukkan atau digoreskan. Terdiri dari dua jenis yaitu ose lurus dan ose bulat.


BAB VI

PENUTUP

 

V.1 Kesimpulan

Dari hasil percobaan maka dapat disimpulkan :                       

  1.  Semua medium mengandung nutrien dan unsure hara yang cocok dan mendukung untuk menumbuhkan mikroba
  2.  Medium yang dibuat dapat dibedakan atas :
    1. Medium Nutrien Agar (NA)

@  Berdasarkan konsistensinya termasuk medium padat.

@  Berdaasrkan kegunaannya termasuk medium umum yang berfungsi untuk menumbuhkan bakteri

@  Berdasarkan bahannya termasuk medium semi alamiah.

  1. Medium Nutrien Broth (NB)

@  Berdasarkan konsistensinya termasuk medium cair.

@  Berdaasrkan kegunaannya termasuk medium umum yang berfungsi untuk menumbuhkan bakteri

@  Berdasarkan bahannya termasuk medium semi alamiah

  1. Medium Tauge Ekstrak Agar (TEA)

@ Berdasarkan konsistensinya termasuk medium padat.

@ Berdaasrkan kegunaannya termasuk medium umum yang berfungsi untuk menumbuhkan khamir.

@ Berdasarkan bahannya termasuk medium semi alamiah.

  1. Medium Potato Dekstrosa Agar (PDA)

@ Berdasarkan konsistensinya termasuk medium padat.

@ Berdaasrkan kegunaannya termasuk medium umum yang berfungsi untuk menumbuhkan jamur.

@ Berdasarkan bahannya termasuk medium semi alamiah.

  1. Medium Potato Dekstrosa Broth (PDB)

@ Berdasarkan konsistensinya termasuk medium cair.

@ Berdaasrkan kegunaannya termasuk medium umum yang berfungsi untuk menumbuhkan jamur.

@ Berdasarkan bahannya termasuk medium semi alamiah.

@  Alat-alat untuk inkubasi : Inkubator aerob dan inkubator anaerob

@  Alat-alat untuk sterilisasi : Oven dan otoklaf

@  Alat-alat untuk kerja aseptis : LAF (Laminar Air Flow) dan enkas

@  Alat-alat untuk perhitungan kuantitatif mikroba : Colony counter, spektrofotometer dan mikroskop

@  Alat-alat untuk mengukur secara kuantitatif : Pipet gondok, pipet skala dan labu ukur

@  Alat-alat untuk mengukur secara kuantitatif : Pipet volum, gelas piala / gelas kimia (Beker glass), gelas ukur, erlenmeyer dan spoit

@  Alat-alat untuk penyaringan atau pemisahan : Sentrifuge, filter bakteri

@  Alat-alat lain : Pencadang, cawan Petri, ose

V.2 Saran

Sebaiknya alat-alat yang rusak dan tidak berfungsi diganti dengan alat yang berfungsi baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Jr. Pelczar, Michael J., (1986), Dasar-dasar Mikrobiologi, UI Press, Jakarta.
  1. Sehlegel, Hans G., (1994), Mikrobiologi Umum, UGM Press, Yogyakarta.
  1. Hadioetomo, Ratna S., (1990), Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek, PT Gramedia, Jakarta
  1. Dwidjoseputro, D., (1990), Dasar-dasar Mikrobiologi, Djambatan, Malang
  1. Djide, Natsir, 2005, Penuntun Praktikum Instrumentasi Mikrobiologi farmasi Dasar, Jurusan Farmasi Universitas Hasanuddin,  Makassar.
  1. Suriawiria, Unus, 1986, Pengantar Mikrobiologi Umum, Angkasa,  Bandung

 

SKEMA KERJA

 

 

Alat dikumpulkan

 

Digambar dan diberi keterangan

Diberi penjelasan

                
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

 

 

LAPORAN KELOMPOK

“ PENGENALAN ALAT DAN MEDIUM “

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

KELOMPOK DUA

 

GOLONGAN SABTU SIANG

 

 

MAKASSAR

2011

laporan kation

DAFTAR ISI

 

 

BAB I  PENDAHULUAN

1.1    Latar belakang

1.2    Maksud dan Tujuan

1.3    Prinsip Percobaan

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

            2.1 Teori Umum

2.2 Uraian Bahan

2.3 Prosedur Kerja

 

BAB III METODE KERJA

            3.1 Alat dan Bahan

3.2 Cara Kerja

 

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN

            4.1 Uji Organoleptis

4.2 Reaksi

 

BAB V PEMBAHASAN

 

BAB VI PENUTUP

            6.1 Kesimpulan

6.2 Saran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

 

Identifikasi kation banyak digunakan terhadap terutama sampel yang berupa bahan garam yang mengandung banyak logam-logam, misalnya pasir besi dan sebagainya. Dengan uji kation ini, bahan-bahan galian tersebut dapat segera ditentukan tanpa memerlukan waktu yang lama.

 

Dengan adanya suatu unsur berguna untuk memisahkan bahan galian yang tercampur. Selain itu, dapat juga digunakan untuk kasus-kasus keracunan logam berat, seperti Hg dan Pb. Identifikasi kation banyak digunakan atau dilakukan, mengingat karena bahan-bahan tersebut merupakan bagian bahan obat, bahan baku, dan sedian obat. Namun, dapat juga sebagai pencemar yang perlu diketahui keberadaannya agar dapat diantisipasi bila membahayakan.

 

I.2 Maksud dan Tujuan

1.1.1.      Maksud percobaan

Mengetahui dan memahami tahap-tahap identifikasi kation untuk suatu sampel.

 

1.1.2.      Tujuan Percobaan

Mengidentifikasi kation-kation golongan I, II, III, IV, dan V, serta uji penegasan dengan menggunakan beberapa pereaksi yang spesifik.

 

1.2.          Prinsip percobaan

Mengidentifikasi kation golongan I sampai golongan V yang terdapat dalam suatu sampel dengan mereaksikannya dengan berbagai pereaksi tertentu yang nantinya akan memberikan tanda spesifik yang berupa terbentuknya endapan, perubahan warna, dan terbentuknya gas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB. II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Umum

Untuk tinjauan analisis kualitatif sistematik, kation-kation diklasifikasikan dalam ilmu golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu tehadap beberapa reagensia. Reagen golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah Asam klorida, Hidrogen sulfida, Amonium sulfida, dan Amonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagen-reagen ini dengan membentuk endapan atau tidak.

 

Secara prinsip, zat yang akan diidentifikasi dilarutkan kemudian ditambahkan pereaksi tertentu yang sesuai, yang akan mengendapkan segolongan kation sebagai garam yang sukar larut atau hidroksidanya. Pereaksi haruslah sedemikian rupa sehingga pengendapan kation golongan kation selanjutnya tidak terganggu atau sebelumnya dapat dengan mudah dihilangkan dari larutan yang hendak dianalisis.

 

Untuk identifikasi senyawa organik, pada umumnya didasarkan atas kelarutannya dalam air. Jika senyawa tidak larut dalam air, maka harus dilakukan destruksi. Cara destruksi tergantung dari senyawa yang hendak dianalisis dan ditentukan dengan bantuan percobaan pendahuluan. Prinsip destruksi ini terdiri dari pelelehan campuran senyawa yang sukar larut dalam pereaksi yang sesuai dalam jumlah yang berlebih. Akibatnya reaksi akan digeser sempurna ke arah reaksi.

 

Kation golongan I membentuk klorida, yang tidak larut. Namun, Timbal klorida sedikit larut dalam air, dan karena itu timbal tidak pernah mengendap dengan sempurna bila ditambahkan dengan HCl encer kepada suatu cuplikan ion timbal yang tersisa itu, diendapkan secara kuantitatif dengan H2S dalam suasana asam bersama-sama golongan II.

 

Endapan Perak klorida dalam bentuk dadih susu atau gumpalan sebagai hasil koagulasi bahan koloidal. Endapan dapat dengan mudah disaring atau dicuci dengan air yang mengandung sedikit asam nitrat. Asamnya mencegah peptisasi endapan dan teruapkan apabila endapan dikeringkan.

 

Reaksi identifkasi yang lebih sederhana dikenal sebagai reaksi spesifik untuk golongan tertentu. Reaksi kation untuk golongan II adalah Hidrogen sulfida yang hasilnya adalah endapan-endapan berbagai warna. Kation-kation golongan II dibagi atas dua subgolongan, yaitu subgolongan Tembaga dan Arsenik. Subgolongan Tembaga terdiri dari Hydrargium (II), Plumbum (II), Bismut (III), Cuprum (III), dan Capmium (II). Subgolongan Arsenik terdiri dari Arsen (III), Arsen (V), Stibium (III), Stannum (II), dan Stannum (IV).

 

Kation golongan III terdiri dari Besi (III), Aluminium, Kromium (III) dan (IV), Nikel, Kobalt, Mangan (II) dan (VII), dan Zink.

 

Logam-logam ini diendapkan oleh reagen golongan untuk golongan I dan II, tetapi semuanya diendapkan. Dengan adanya Amonium klorida oleh Hidrogen sulfida dari larutan yang telah dijadikan basa dengan larutan Amonia. Logam-logam ini diendapkan sebagai sulfida, kecuali Amonium dan Kromin, yang diendapkan sebagai hidroksida oleh larutan Amonia dengan adanya Amonium klorida. Sedang logam-logam lain ini tetap berada dalam larutan dan dapat diendapkan sebagai sulfida oleh Hidrogen sulfida.

 

Kation golongan IV terdiri dari Barium, Stronsium, dan Kalsium. Kation golongan ini tidak bereaksi dengan Asam klorida, Hidrogen sulfida, ataupun Amonium sulfida; tetapi Amonium karbonat membentuk endapan-endapan putih.

 

Kation golongan V terdiri dari Magnesium, Natrium, Kalium, dan Amonium. Kation-kation golongan V tidak bereaksi dengan Asam klorida, Hidrogen sulfida, Amonium sulfida, dan Amonium karbonat. Reaksi-reaksi khusus atau uji-uji nyala dapat dipakai untuk mengidentifikasi ion-ion ini.

 

2.2 Uraian bahan

1. Perak nitrat (FI edisi  3:97)

Nama resmi                 :  Argentii nitras

Nama lain                    : Perak nitrat

RM/BM                       : AgNo3/ 169,87

Pemerian                      : hablur transparan atau aerbuk hablur berwarna putih;      tidak  berbau;menjadi gelap jika kena cahaya.

Kadar                            :Mengandung tidak kurang dari 99,5 % AgNO3.Hablur transparan atau serbuk hablur warna putih,tidak berbau, menjadi gelap jika kena cahaya.

Kelarutan                    :sangat mudah larut dalam air.

Penyimpanan               :dalam wadah tertutup baik,terlindung dari cahaya.

Khasiat dan pengunaan : Antiseptikum ekstern

 

2. Timbal asetat(FI edisi 3: 503)

Nama resmi : Plumbi acetas

Nama lain :Timbal asetat

RM/BM :C4H604Pb.H20/379,33

Penmerian :Hablur prisma monoklir,kecil,putih,transpparant,atau massa hablur berat,berbau seperti cuka.

Kadar  :Meengandung tidak kurang dari 99,5 %  dan tidak lebih dari 104,5 % timbale asetat.

KelarutanLarut dalam  2 bagian air,umumnya berpolarisasi,dalam 63 bagian etanol (95 %) dan 2 bagian gliserol p.

Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat.

Khasiat dan kegunaan : adstringen

 

3. Raksa(II) klorida(FI Edisi 3: 287)

Nama resmi :Hydrargyri  bichloridum

Nama lain : raksa(II) klorida

RM/BM :HgCl2/ 271,52

Pemerian :Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidaj berbau,berat.

 

Kadar  :Mengandung tidak kurang dari 99,5 % HgCl2 dihitung terhadap zat yang telah dikerinakan.

KelarutanLarut dalam 1/5 bagian air,dalam 2,1 bagian air mendidih,dalam dalam 3 bagian etanol(95 %) p,,dalam 2 bagian etanol (95 %) p mendidih,dalam 20 bagian eter p dan dalam 5 bagian gliserol p.

Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat.

Khasiat dan kegunaan : antiseptikum ekstern.

 

4.Bismuth subnitrat(FI edisi 3 :118-119)

Nama resmi : Bismuth subnitras

Nama lain :Bismuth subnitrat

RM/BM :BiNO3/

Penmerian : serbuk hablur renik: putih,tidak berbau,tidak berasa,berat.

Kadar  :Mengandung tidak kurang dari 71,0 % dan tidak lebih dari 75,0 %    Bismuth.

KelarutanPraktis tidak larut dalam air dan dalam pelarut organic.Larut sempurna dala asam klorida p dan dalam asam nitrat p.

Penyimpanan: dalam wadah tertutup rapat,terlindung dari cahaya.

Khasiat dan penggunaan adstringen saluran pencernaan.

 

5.Besi(II) Sulfat (FI edisi 3 :254)

Nama resmi : Ferrosi sulfas

Nama lain :Besi (II) sulfat

RM/BM :FeSo4 / 151,90

Pemerian  serbuk :putih keabuan rasa logam,sepat,

Kadar  : Mengandung tidak kurang dari dari 80% dan lebih dari 90% FeSO4

Kelarutan :perlahan-lahan larut hampir  sempurna dalam air bebas  karbon dioksida.

Penyimpanan: dalam wadah tertutup baik.

Khasiat dan penggunaan : anemia defisiensi besi.

 

6.Besi(III)Klorida (FI edisi 3:659)

Nama resmi                 : Ferros Chloridum

Nama lain                    :Besi (II) Klorida

RM/BM                       :FeCl3/ 162,2

Pemerian hablur           : hitam kehijauan,bebas warna jingga dari garam hudrat                     yang telah telah terpengaruh oleh kelembapan.

Kelarutan                     : Larut dalam air,larutan beropalesensi berwarna jingga.

Kegunaaan                  : sebagai sampel.

 

7.Aluminium Kalium  sulfat(FI edisi 3:81)

Nama resmi :Alumini kalii sulfas

Nama lain :A luminium Kalium  sulfat

RM/BM :KAlSO4/474,39

Pemerian :Masa hablur atau butiran hablur tidak berwarna, transparan,rasa manis dan sepat.

Kadar  :Mengandung tidak kurang dari 99,5% KAl(SO4)2.12 H2O

Kelarutan: Sangat mudajh larut dalam air mendidih, mudah larut dalam air,praktis tidak larut dalam etanol (95 % ),mudah larut dalam gliserol p.

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.

Khasiat dan penggunaan :adstringen.

 

8. Krom(III) Sulfat(FI edisi 3: 698)

Nama resmi :Chrom Sulfat

Nama lain :Krom (III) Sulfat

RM/BM :Cr2(SO4)3

Pemerian :

Kadar  :

Kelarutan ; Larut sempurna dalam air

Penyimpanan : dalam wadahtertutup baik

 

9. Nikel Sulfat(1:429)

Nama resmi : Nikel Sulfurium

Nama lain :Nikel Sulfat

RM/BM :N2SO4.7 H2O/280,9

Penmerian :Hablur berwarna hijau

 

10. Kobalt (II) nitrat

Nama resmi: Cobaltrat nitras

Naman lain : Kobalt (II) nitrat

RM/ BM : Co(NO3)2/ 291

Pemerian : sedikit mekar, merah pucat, atau serbuk lembayung, tidak berbau.

Kelarutan : larut dalam air, tidak larut dalam etanol

 

11. Zenk oksida

Nama resmi : Zinci Oxydum

Nama lain : Zenk oksida

RM/ BM : ZnO/ 81,38

Kadar : Mengandung tidak kurang dari 99,0% ZnO, dihitung terhadap zat yang telah dipijarkan

Pemerian : Serbuk amor, sangat halus, putih atau putih kekuningan, tidak berbau, tidak berasa, lambat laun menyerap CO2 dari udara.

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidroksida.

 

13. Barium sulfat

Nama resmi : Bani sulfas

Nama lain : Baroum sulfat

RM/ BM : BaSO4/ 233,40

Kadar : Mengandung tidak kurang dari 97,5% BaSO4

Pemerian : serbuk halus, bebas butiran menggumpal, putih, tidak berbau, dan tidak berasa.

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, dalam pelarut organic, dalam larutan asam, dan dalam larutan alkali.

 

14. Kalsium karbonat

Nama resmi : Calsii carbonat

Nama lain: Kalsium karbonat

RM/ BM : CaCO3/ 68,09

Kadar : Mengandung tidak kurang dari 98,5% CaCO3 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan

Pemerian : Serbuk hablur. Tidak berbau, tidak berasa

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, sangat sukar larut dalam air yang mengandung karbohidrat.

 

15. Stronsium klorida

Nama resmi : Stronsium cloridum

Nama lain : Stronsium klorida

RM/ BM : SrCl2/ 158,26

Pemerian : Heksahidrat, granul putih, tidak berbau

Kelarutan : Larut dalam 0,8 bagian air, 0,5 bagian air mendidih.

 

16.  Magnesium sulfat

Nama resmi : Magnesii sulfas

Nama lain : Magnesium sulfat/ garam inggris

RM/ BM : MgSO4.7H2O/ 246,47

Kadar : Mengandung tidak kurang dari 99% MgSO4, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Pemerian : Hablur ridak berwarna, tidak berbau, rasa dingin, asin, dan pahit. Dalam udara kering dan panas merapuh.

Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air, agar sukar larut dalam etanol (95%) P.

 

17.  Natrium bromida

Nama resmi : Natrii bromidum

Nama lain : Natrium bromida

RM/ BM : NaBr/ 102,90

Kadar : Mengandung tidak kurang dari 99% NaBr, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan

Pemerian : Hablur kecil, transparan atau buram, tidak berwarna, atau serbuk butir putih, tidak berbau, rasa asin, dan agak pahit, meleleh basah

Kelarutan : larut dalam 1,5 bagian air dan dalam 17 bagian etanol (95%) P.

 

18. Kalium klorida

Nama resmi : Kalii Cloridum

Nama lain : Kalium klorida

RM/ BM : KCl/ 74,55

Kadar : Mengandung tidak kurang dari 99% KCl dihitung tehadap zat yang telah dikeringkan.

Pemerian : Hablur berbentuk kubus, atau bebentuk prisma, tidak berwarna atau serbuk butir putih, tidak berbau, rasa asin

Kelarutan : Larut dalam 3 bagian air, sangat mudah larut dalam air mendidih, praktis tidak larut dalam etanol mutlak P dalam eter P.

 

19. Amonium bromida

Nama resmi : Amonium bromida

Nama lain : Amonium bromida

RM/ BM : NH4Br/ 97,96

Kadar : Mengandung tidak kurang dari 99% NH4Cl terhadap zat yang dikeringkan

Pemerian : Hablur atau serbuk, tidak berwarna sampai putih kekuningan lemah, tidak berbau, higroskopik

Kelarutan : Larut dalam 1,3 bagian air dan dalam 12 bagian etanol 95% P.

 

2.3 Prosedur kerja

Katin golongan 1

  1. Timbal (Pb2+)
  • Setetes larutan ditambahkan setetes H2SO4 2M dan alcohol setetes akan terbentuk endapan putih Pb SO4

Beberapa tetes larutan ditambahkan 2 tetes KI 0.5 N terbentuk endapan kuning Pb I2 yang larut dalam air panas dan apabila didinginkan akan terjadi Kristal kuning emas yang mengkilap

 

  1. Perak (Ag+)

Larutan yang mengandung Ag(NH3)2+ tambahkan  setetes demi setetes HNO3 6M terbentuk endapan putih AgCl

Larutan yang sama dengan a, tetesi setetes KBr 1 M akan terjadi endapan kuning AgBr atau AgI

  1. Raksa (Hg2+)

Endapan hitam dilarutkan dalam aqua regia (HCl + HNO3 : 3:1)lalu diuapkan sampai hamper kering. Residu dilarutkan dalam 1o tetes air dan 1 tetes HNO3 2 N kemudian diperiksa:

Pada kertas saring teteskan larutan diatas lalu teteskan SnCl2 terbentuk amolgan yang mengkilap.

Celupkan kawat tembaga yang bersih, biarkan beberapa lamanya menjadi tak berwarna. (HgCl2 + 2I-   HgI2 endapan merah + Cl-)

Kation golongan II

  1. Raksa (II) Hg2+

Setetes larutan ditambahkan setetes larutan SnCl2, terbentuk noda hitam.

Celupkan kawat tembaga bersih, beberapa lama kemudian kawat diangkat dan digosok, terjadi amolgan yang mengkilap.

Pada larutan ditambahkan difenil karbazon dalam alcohol terjadi warna ungu yang tertarik oleh CHCl3.

  1. Timbal (Pb2+)

Pada larutan ditambahkan 1 ml NH4-Ac lalu 2 tetes larutan K2CrO4.

Pada larutan ditambahkan 1 ml H2O2 3% lalu 1ml NH4OH 6M

Sintrifut fitrat ditambah pereaksi bersidi asetat terbentuk warna biru.

  1. Bismuth ( Bi3+)

Pada larutan diteteskan 1 tetes preaksi Cinchomin-NO3 dan 1 tetes KI trbentuk endapan jingga.

Celupkan kawat tembaga pada larutan, setelah beberapalama terbentuk amalgam yang tahan pemanasan.

Pada kertas rodamin diteteska larutan, terbentuk noda jingga.

  1. Cuprum (Cu2+)

Warna larutan berwarna birumenandakan adanya Cu2+

Pada larutan zat ditambahkan 1 tets ZnSO4  dan 1 tetes larutan NH4Hg (CNS)4,  terbentuk endapan ungu dari CuZnHg(CNS)4 .

Tambah larutan KI terjadi warna coklat.

Pada larutan ditambahkan K4Fe(CN)6 terjadi warna coklat merah.

  1. Cadrium (Cd2+)

Pada larutan ditambahkan H2O-H2s,  terbentuk endapan kuning.

Pada larutan zat ditambahkan H2O-H2S, terbentuk endapan CdS yang berwarna kuning.

  1. Arsen (As3+)

Reaksi Gutzetc : Larutan zat dalam tabung reaksi ditambahkan bubuk Al dan 10 tetes KOH 6 M. Pada mulut tabung dimasukkan kapas yang dibasahi dengan  HgCl2 atau larutan AgNO3, terbentuk noda jingga coklat atau hitam.

Setelah larutan ditambahkan setetes H2O2 3% lalu dipanaskan. Tambahkan pereaksi HNO3 2M dan NH4-molibalat, terjadi endapan putih.

  1. Antimon (Sb3+)

Setetes larutan ditambah 1 tetes pereaksi Rhodamin dan hablur KNO2 , terbentuk warna merah ungu.

Setetes larutan ditambah natrium asetat dan sebutir Na2S2O3, terjadi warna merah.

Kation golongan III

  1. Zink (Zn2+)

Larutan yang ditambah H2O-H2S, terjadi endapan putih dari ZnS.

 

Larutan yang ditambahkan K4Fe(CN)6, terjadi endapan putih yang tidak larut dalam HCl.

 

Larutan yang ditambahkan merkuri tiosianat dan CuS terjadi warna ungu.

 

  1. Cobalt (Co2+)

Pada larutan zat ditambahkan larutan KNO2 6M dalam jumlah yang sama terbentuk endapan kuning setelah dipanaskan.

 

Larutkan dengan tiosianat terbentuk warna biru.

 

Pada kertas saring teteskan larutan zat kemudian teteskan larutan nitroso-B-naftol dalam spiritus 40% menjadi warna merah.

  1. Nikel (Ni2+)

Larutkan zat yang ditambahkan NH4OH tetes demi tetes sehingga basa kemudian ditambah dimetil slioksisan , terjadi warna merah.

  1. Ferrum (Fe2+)

Larutan zat ditambah 2 tetes larutan KSCN, terjadi warna ungu.

 

Larutan zat ditambah 2 tetes larutan K4Fe(CN)6 terjadi warna biru berlin.

 

Setetes larutan ditambah asam salisilat terjadi warna ungu.

  1. Aluminium (Al3+)

Pada larutan zat ditambahkan 2 tetes lartan 0,2% alizarin S kemudian tetes demi tetes NH4OH sampai warna biru ungu. Asamkan dengan penambahan asam asetat encer, terjadi warna bening.

  1. Chromium (Cr3+)

Larutan berwarna kuning. Asamkan dengan penambahan asam asetat 6 M, lalu tambahkan Pb asetat terbentuk endapan kuning dari PbCrO4.

 

Pada larutan zat ditambahkan difenil karbazan dalam CHCl3, terbentuk warna ungu yang larut dalam CHCl3.

 

Pada larutan zat ditambah 2 tetes H2)2 3% dan  metilisobutilketon beberbentuk warna birupada lapisan organic.

  1. Mangan (Mn2+)

Pada larutan zat ditambahkan I mL HNO3 6 M, lalu sebutir Na bismutat terbentuk warna ungu dari MnO4.

 

Pada kertas saring yang telah dibasahi dengan perekasi benzidain asetat dan NaOH 1 M diteteskan larutan zat, terjadi noda biru.

 

5 tetes larutan zat diuapkan di atas capor sampai kering lalu ditambahkan sebutir KNO3 dan Na2CO3 anhidrat, dilebur kembali, terjadi warna hijau.

Kation golongan IV

  1. Barium (Ba2+)

Larutan asam asetat ditambahkan Na2SO4, terbentuk endapan putih yang tidak larut dalam air raja (HCl-HNO3 = 3:1)

  1. Kalsium (Ca2+)

Larutan asam asetat encer di dalam tabung reaksi ditambahkan Na2SO4 terbentuk Kristal jarum

  1. Stronsium (Sr3+)

Larutan dalam asam sulfat encer terbentuk endapan putih kembali, endapan tidak larut dalam (NH4)2SO4 bahkan dengan mendidihkan (perbedaannya dengan kalsium), dalam CaSO4 jenuh, terbentuk endapan putih lambat-lambat dalam keadaan dingin tetapi lebih cepat dengan mendidihkan (perbedaan dengan barium)

Kation golongan V

  1. Magnesium (Mg2+)

Filtrat terakhir ditambahkan 10 tetes larutan NH4Cr 5 M, 5 tetes NH4OH pekat, kemudian ditambahkan 5 tetes larutan Na2HPO4 0,5 M. Kocok campuran di atas, diamkan beberapa menit. Terbentuk Kristal dari MgNH4PO4.

  1. Natrium (Na+)

Sedikit zat diteteskan 10 tetes HCl 6 M. Celupkan kawat nikrom yang telah berisi, kemudian pijar di atas api oksidasi. Amati nyala yang terjadi, apabila ada Na maka terbentuk nyala kuning.

 

Sedikt zat disimpan di atas kaca objek, teteskan sedikit air suling, kemudian teteskan pereaksi zink urasil asetat, terbentuk Kristal berbentuk diamond.

  1. Kalium (K+)

Sedikit zat ditambahkan 10 tetes HCl 6 M, celupkan kawat nikrom yang telah bersih kemudian pijarkan di atas api, terbnetuk nyala ungu (diamati dengan menggunakan kaca kobalt).

 

Sedukit zat disimpan di atas kaca objek teteskan air suling, kemudian ditetesi pereaksi triple nitrit, terbnetuk Kristal persegi berwarna hitam (dlihat di bawah mikroskop).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TABULASI KATION

 

Kation Golongan I

 

Pereaksi

Pb2+

Hg+

Ag+

HCl

+ NH3

 

+ air panas

Putih, PbCl2

Tdk ada prubahan

 

Larut

Putih, Hg2Cl2

Hitam, Hg ↓ +

HgNH2

Tdk ada perubahan

Putih, AgCl2

Larut, [ Ag(NH3)2]2+

Tdk ada prubahan

H2S (+ HCl)

+cc. NHO3

Didihkan

NH3 sedikit

 

+ berlebihan

Hitam, PbS ↓

Putih, PbSO4

 

Putih, Pb(OH)2

 

Tdk ada perubahan

Hitam, Hg ↓ + HgS ↓

Putih, Hg2(NO3)2S ↓

 

Hitam, Hg+HgO, HgNH2NO3

Tdk ada perubahan

Hitam, Ag2S

Larut, Ag +

 

Coklat, Ag2O ↓

Larut, [ Ag(NH3)2]+

NaOH, sedikit

 

berlebih

↓putih, Pb(OH)2

 

Larut, [Pb(OH4)]2-

Hitam, Hg+HgO2,

↓ HgNH2NO3

Tdk ada perubahan

↓ coklat, Ag2O

 

Tdk ada perubahan

KI sedikit

+ berlebihan

↓ kuning PbI2

Tdk ada perubahan

↓ hijau HgI

↓ abu-abu Hg+[HgI4]2-

↓ kuning HgI

Tdk ada perubahan

K2CrO4

+ NH3

↓ kuning PbCrO4

Tdk ada perubahan

↓ merah Hg2CrO4

↓ hitam Hg+HgNH2NO3↓

↓ merah Ag2CrO4

Larut,[Ag(NH3)]+

KCN, sedikit

 

+ berlebihan

↓ Putih Pb(CN)2

 

Tdk ada perubahan

↓ Hitam Hg + Hg(CN)2

Tdk ada perubahan

↓ Putih AgCN

 

Larut, [Ag(CN)2]-

Na2CO3

 

+ mendidih

↓ Putih PbO, PbCO3

 

Tdk ada perubahan

↓ Putih kekuningan Hg2CO3

↓ Hitam Hg + ↓ HgO

↓ Putih kekuningan Ag2CO3

↓ Coklat Ag2O

Na2HPO4 ↓ Putih Pb3(PO4)2 ↓ Putih Hg2HPO4 ↓ Kuning Ag3PO4
Reaksi spesifik Benzidina (+Br2)

Warna biru

Difenil karbazida

Warna ungu

p-dimetilamino-benzilidena rodamina (+HNO3)

Warna lembayung

 

 

Katoin golongan II A

 

Pereaksi

Hg2+

Sn2+

Bi3+

Cu2+

Cd2+

H2S

 

 

 

↓ Putih Hg3S2Cl2

↓ Hitam HgS

 

Coklat

↓ SnS larut

↓ Hitam Bi2Sr3 ↓ Hitam CuS

↓ Kuning CdS

NH3, sedikit

↓ Putih HgO.Hg(NH)2NO3

 

↓Bi(OH)2NO3

Biru Cu(OH)2CuSO4

↓ Putih Cd(OH)2

NaOH, sedikit

+ berlebih

↓ Merah kecoklatan

Larut

 Putih

 

↓ Sn(OH)2

↓ Putih Bi(OH)3

Sedikit larut

↓ Biru Cu(OH)2

Tidak larut

↓ Putih Cd(OH)2

Tidak larut

KI

+ Berlebih

↓ Merah HgI2

Larut

 

↓ Putih

Larut, (BrI)2-

Putih, CuI2

 

KCN

 

+ Berlebih

Tdk ada perubahan

 

Tdk ada perubahan

 

↓ Putih Bi(OH)3

Tdk larut

Kuning, Cu(CN)2

 

Larut

↓ Putih Cd(CN)2

Larut [Cd(CN)4]2-

SnCl2

+ Berlebih

 

↓ Putih ↓ HgCl2

↓ Hitam Hg

 

 

 

 

Air

 

 

↓ Putih BrO(NO)2

 

 

Reaksi spesifik

Uji kobalt (II)

Tiosianat → biru tua

Kalium iodida → endapan merah jingga

Asam tionat → hitam

 

Dinitro-P depensi ↓ warbadida (0,1%) → dari coklat berubah menjadi kehijauan

Uji nyala

 

Biru abu-abu

 

 

Hijau kebiran

 

 

Kation golongan II B

 

Pereaksi

As3+

As5+

Sb3+

Sb5+

Sn4+

H2S

 

 

+ HCl pelarut, dididihkan

Suasana asam kuning (As2S3)

Tidak larut

Kuning

As2S5

 

Tidak larut

Merah jingga

Sb2S3

Larut

Coklat

Sb5S2

 

Larut

Kuning

SnS2

 

Larut, SnS2

AgNO3 + HNO3/NH4OH

Kuning Ag3AsO3

Larut, [Ag(NH3)2]+

Merah coklat

AgAsO4

Larut

 

 

 

SnCl2

+ 2 mL HCl pekat

0,5 mL SnCl2 ↓ Coklat tua

 

 

 

 

NH4-molibolat

 

Kristalin putih

MgNH4SO4

 

 

 

KI

 

+ HCl pekat, ungu, I2 ↓ +CCl4

Gelatin, kuning muda

Merah (SbI)3-

 

 

Air

 

 

Putih, SbOCl

Putih SbO4

 

NaOH/NH4OH

 

 

Putih, SbO3

Putih Sb(OH)2

Putih, Sn(OH)4

Zink

 

 

↓ Hitam, Sb

↓ Hitam Sb

Mereduksi ion Sn4+ menjadi Sn2+

HgCl2, sedikit berlebih

 

 

 

Putih, HgCl2

Abu-abu Hg

Tdk ada endapan

Reaksi spesifik

↓ kuning muda

Barutan utanil asetat: ↓ kuning muda

Reagensia rodamin-B

Warna biru

Reagensia Rodamin-B

 

 

 

 

 

 

 

 

Kation golongan III A

 

Pereaksi

Fe2+

Fe3+

Al3+

Cr3+

NaOH

 

+ berlebih

↓ Putih Fe(OH)2

Tidak larut

↓ Coklat merah Fe(OH)3

Tidak larut

↓ Putih Al(OH)3

Larut [Al(OH)3]-

Larut ↓ Hijau biru Cr(OH)3

Larut [Cr(OH)4}-

NH4OH

 

+ berlebih

↓ Putih Fe(OH)2

 

↓ Coklat merah Fe(OH)3

Tidak larut

Putih gelatine Al(OH)3

Larut sedikit

Hijau biru Cr(OH)3

Larut sedikit

Al2S

Tdk ada endapan

Putih susu Fe2SO3

 

 

(NH4)2S

Hitam FeS

↓ Hitam Fe2S3

↓ Putih Al(OH)3

↓ abu-abu hijau biru Cr(OH)3

Asam HCl

Larut

Larut

 

 

KCN

 

 

+ berlebih

Coklat kekuningan

 

Larut [Fe(CN)3]-

Coklat kemerahan Fe(CN)3

Kuning [(Fe(CN)6]3-

 

 

K4F2(CN)

Putih, K2F2

 

 

 

K3Fe(CN)6

 

Dimetil glokisima

Biru tua [Fe(CN)6]3

Merah

Coklat [Fe (CN)6]

 

 

Mg3HPO4

 

Putih kekuningan FePO4

Putih gelatine AlPO4

Hijau biru CrPO4

NaCH3COOH + berlebih

 

Coklat kemerahan

Tidak ada endapan putih, Al(CH2)2CH3COO

Tidak ada perubahan

 

 

 

 

 

Na2CO3

 

 

Putih, Al(OH)3

Abu-abu hijau biru, Cr(OH)3

Reaksi spesifik

V-fenamtrolina warna merah

Kuprikan, endapan coklat kemerahan (bila ada HCl)

Alizarin-S endapan merah

 

 

 

 

 

 

 

 

Kation golongan III B

 

Pereaksi

Co2+

Ni2+

Mn2+

Zn2+

NaOH

+ berlebih

↓ Biru

↓ Merah jambu

↓ Hijau

Tidak larut

↓Putih

Tidak larut

↓ Putih gelatin

larut

NH4OH

+ berlebih

↓ ­Biru

Larut

↓ hijau

Larut

↓ putih ↓ putih

Tidak larut

(NH4)2S

+ HCl encer

+ berlebih

↓ hitam

Tidak larut

↓ hitam

 

Lar.koloid coklat tua

↓ merah jambu ↓ putih

Larut

Tidak larut

KCN ↓ kuning Tidak ada ↓    
NH4(SCN)2 Larutan biru      
H2S ↓ hitam Hanya sebagian yg mengendap   ↓ ZnS
Na(HPO4)2     ↓ merah jambu  
Na2HPO4       ↓putih Zn3(PO4)2
KNO2 ↓ kuning Tidak ada ↓    
Warna zat Biru Hijau    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kation Golongan IV

 

Pereaksi

Ba2+

Sr2+

Ca2+

NH4OH Keruh (≠↓)   Keruh (≠↓)
(NH4)2CO3

+ CH3COOH

dipanaskan

↓ putih

Larut

↓ putih Amorf putih

 

↓ Kristal

Amonium Oksalat

+ CH3COOH

↓ putih

Larut

↓ putih  
H2SO4 encer

+ H2SO4

↓ putih

Larut

↓ putih ↓ putih

Larut

CaSO4 ↓ putih    
K2CrO4

+ CH3COOH

dipanaskan

↓ kuning

Larutan jingga

kemerahan

↓ putih

 

larut

 
Uji nyala Hijau kekuningan Merah barmin Merah kekuningan
K4Fe(CN)6     ↓ putih

 

 

 

 

 

 

 

 

Kation Golongan V

 

Pereaksi

Mg2+

Na2+

K+

NH4+

NaOH

+ air

NaOH

+ berlebih

↓ putih gelatin

Larut sedikit

↓ putih

     

 

↑ NH3, bau uap

Putih

NH4CO3 ↓ putih      
Na2CO3

+ asam

↓ putih

Larut

     
Na2HPO4

+ CH3COOH

Kuning titan

↓ kristalin putih

Larut

↓ merah tua

     
Na3CO(NO2)6

+CH3COOH

    ↓ kuning ↓ kuning
H2C4H4O6

+ Na-asetat

       
HClO4     ↓ kristal putih  
Uji nyala Meah tua Kuning intensif lembayung  
Nessler       ↓ coklat tua, kuning
Pemijaran       Menguap, tidak ada sisa.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE KERJA

III.1              Alat dan Bahan

III.1.1  Alat yang dibutuhkan

Baskom, bunsen, cawan porselen, gegep kayu, gelas arloji, kain putih, kawat nikrom, lampu spiritus, penangas air, pipet panjang, pipet pendek, plat tetes, pot sampel, rak tabung, sendok tabung, sikat tabung, tabung reaksi, dan tissue roll.

III.1.1  Bahan yang dibutuhkan

Aquadest, AgNO3, Amonium molibdat, BaCl2, CaCl2, HCl, HClO4, HNO2, H2SO4, I2, KBrO3, KMnO4, MgSO4, NaNO2, NaOH, Na2EDTA, Na2S, Na2S2O3, NH4Cl, NH4CO3, NH4SCN, dan Pb asetat.

III.1.3  Cara kerja sampel

  • Uji organoleptis
  1. Disiapkan sampel yang akan diuji
  2. Diamati warna dan bau sampel
  3. Diuji kelarutan sampel dengan melalrutkannya dalam aquadest
  4. Diamati bentuk sampel
  5. Diuji sifat higroskopis sampel dengan meletakkannya sedikit dalam wadah yang terbuka.
  • Uji golongan
  1. Dibuat larutan stock sampel dalam sebuah tabung reaksi.
  2. Dari larutan stock, diambil sekitar 1 mL untuk uji golongan I.
  3. Untuk uji golongan I, larutan stock tadi ditambahkan HCl encer. Jika terjadi endapan, maka sampel tersebut adalah kation golongan I. Dan kemudian ditambahkan reaksi spesifik golongan tersebut.
  4. Jika tidak terjadi endapan, maka sampel ditambahkan dengan larutan natrium sulfida. Jika terdapat endapan, maka sampel tersebut termasuk kation golongan II dan ditambahkan reaksi spesifik goglongan II.
  5. Jika tidak terjadi endapan, maka diambil larutan stock yang baru. Kemudian ditambahkan larutan ammonium klorida dan dan ammonium hidroksida. Jika terdapat endapan, maka sampel tersebut termasuk golongan III A. Jika tidak terjadi endapan, tambahkan Na2S. Jika terjadi endapan, maka sampel tersebut termasuk golongan III B. dan kemudian ditambahkan pereaksi spesifik golongan III B.
  6. Jika tidak terjadi endapan, ambil larutan stock pertama kemudian ditambahkan amonium klorida dan amonium karbonat. Jika terdapat endapan maka sampel tersebut termasuk golongan iV dan kemudian ditambahkan pereaksi spesifik golongan IV.
  7. Jika tidak terdapat endapan, maka sampel termasuk golongan sisa yaitu golongan V yang akan dilanjutkan dengan uji nyala.
  • Uji spesifik
  1. Bahan sampel yang telah diketahui golongannya dibuatkan pereaksi spesifik berdasarkan tabulasi.
  2. Diamati reaksi yang terjadi setelah menambah pereaksi spesifik untuk menentukan jenis kationnya.
  • Uji nyala
  1. Diletakkan sampel di atas gelas arloji dan ditambahkan HCl pekat.
  2. Kawat nikrom dicelupkan ke dalam sampel, kemudian dibakar dan diamati nyala api spesifiknya untuk menentukan jenis kationnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

DATA

IV.1.1      Uji Organoleptis

No.

Sampel

Warna

Rasa

Bentuk

Bau

Kelarutan

1. AEK2 Putih Halus Serbuk Tidak berbau Larut
2. VYNZZIE Hijau Kasar Kristal Tidak berbau Larut
3. KAFF Putih Kasar Kristal Berbau Larut
4. JOUNIN Putih Kasar Kristal Berbau Larut
5. DEVIL Putih Kasar Serbuk Tidak berbau Larut
6. L & A Putih Halus Serbuk Tidak berbau Larut
7. AQAN Pink pucat Kasar Kristal Tidak berbau Larut
8. 1111 Putih Halus Serbuk Tidak berbau Tidak larut
9. THE Orange Halus Serbuk Tidak berbau Larut
10. ANDI Putih Kasar Kristal Berbau Larut
11. XIXZ Hijau kebiruan Kasar Serbuk Berbau Larut
12. YABG Putih Halus Serbuk Tidak berbau Larut
13. GOL Tidak berwarna Halus Serbuk Tidak berbau Larut
14. CHUNIN Tidak berwarna Kasar Kristal Tidak berbau Larut
15. ABCD Putih Halus Serbuk Tidak berbau Sukar larut
16. KECIL Putih Halus Serbuk Tidak berbau Sukar larut
17. RCTI Tidak berwarna Halus Serbuk Tidak berbau Larut
18. AWTM          

VI.1.2 Uji golongan dan spesifik

No.

Sampel

HCl

HCl + Na2S

NH4Cl + NH4OH

(NH4)2CO3

 

Spesifik

Golongan

Kation

1. AEK2 Uji nyala = +HCl → nyala lembayung

V

K+

2. VYNZZIE Uji nyala = +HCl → nyala kuning

V

Na+

3. KAFF Uji nyala = +HCl → nyala kuning

V

Na+

4. JOUNIN Uji nyala = +HCl → nyala merah bata

V

Mg2+

5. DEVIL Uji nyala = +HCl → nyala kuning

V

Na+

6. L & A ↓ putih + NaOH → ↓coklat

I

Ag+

7. AQAN ↓ putih ↓ putih

III B

Mn2+

8. IIII ↓ hitam + NaOH → merah kecoklatan

I

Hg22+

9. THE ↓ putih + HClO4 → ↓ kristal putih

II A

Pb2+

10. ANDI Uji nyala = +HCl → nyala kuning

V

Na+

11.    XIXZ ↓ hitam + NH4OH → ↓hitam

II A

Cu2+

12. YABG Uji nyala = +HCl → nyala lembayung

V

K+

13. GOL Uji nyala = +HCl → nyala lembayung

V

K+

14. CHUNIN Uji nyala = +HCl → nyala lembayung

V

K+

15. ABCD ↓ putih + (NH4)2S ↓ merah jambu

III B

Mn2+

16. KECIL Uji nyala = +HCl → nyala kuning

V

Na+

17. RCTI Uji nyala = +HCl → nyala lembayung

V

K+

18. AWTM ↓ putih Uji nyala = +HCl → nyala hijau kekuningan

IV

Ba2+

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. 2.  Reaksi

  1. Kode sampel                :  AEK2

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala lembayung

  1. Kode sampel                :  Vynzzie

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala kuning

 

  1. Kode sampel                :  KAFF

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala  kuning

 

  1. Kode sampel                :  JOUNIN

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala merah bata

 

  1. Kode sampel                :  DEVIL

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala kuning

 

 

 

 

 

 

  1. Kode sampel                :  L & A

Uji  golongan                :  + HCl   →  ↓ putih

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  NaOH   →  ↓ coklat

 

  1. Kode sampel                :  AQAN

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  NH₄OH   →  ↓ putih

 

  1. Kode sampel                :  IIII

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →  ↓ hitam

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  NaOH   →  ↓ merah kecoklatan

 

  1. Kode sampel                :  THE

Uji  golongan                :  + HCl   →   ↓ putih

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HClO₄  →   ↓ Kristal putih

 

  1. Kode sampel                :  ANDI

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala kuning

 

  1. Kode sampel                :  XIXS

Uji  golongan                :  + HCl   →  ↓ hitam

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  NH₄OH  →  ↓ hitam

+  HNO₃   →  endapan larut

  1. Kode sampel                :  YABG

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala ungu / lembayung

 

  1. Kode sampel                :  GOL

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala ungu

 

  1. Kode sampel                :  CHUNIN

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala ungu

 

  1. Kode sampel                :  RCTI

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala ungu

 

  1. Kode sampel                :  ABCD

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  → ↓ putih

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  (NH₄)₂S   →  merah jambu

 

  1. Kode sampel                :  KECIL

Uji  golongan                :  + HCl   →

+  HCl + Na₂ S   →

+  NH₄Cl + NH₄OH  →

+ NH₄CO₃   →

Uji  spesifik                   :  +  HCl   → nyala kuning

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PEMBAHASAN

 

Analisa kualitatif adalaah suatu analisa yang bertujuan untuk mengetahui keberadaan zat tertentu dalam sample. Dalam praktikum kali ini dilakukan suatu analisa kualitatif terhadap zat-zat anorganik di mana dilakukan uji terhadap sampel-sampel berupa garam-garam yang akan diidentifikasi. Jenis kationnya melalui serangkaian uji, yaitu uji organoleptis, uji golongan, dan uji spesifik untuk menetukan kationnya.

Uji organoleptis merupakan uji pendahukuan, uji ini meliputi pengamatan bentuk, warna, rasa, kelarutan, dan bau, serta sifat-sifat higroskopis sampel. Pengamatan bentuk bertujuan mengamati bentuk sampel. Apakah sampel tersebut berbentuk serabut, hablur, Kristal, atau lainnya. Uji ini dapat mempermudah untuk menentukan jenis kationnya. Uji rasa menentukan keadaan halus atau kasarnya sampel. Uji kelarutan juga mempermudaj penentuan sampel. Ada berberapa sampel yang sering ditemui yaitu AgCl2, AgBr, AgI, AgCH, SrSO4, BaSO4, dan PbSO4. Selain itu, warna larutan juga mempermudah identifikasi. Pengamatan warna adalah yang paling berperan di sini karena warna tertentu mencirikan kation tertentu pula. Beberapa kation memeberi warna spesifik pada larutannya, yaitu biru (Cu2+), hijau (Ni2+, Fe2+, Cr3+, MnO4-), kuning (CrO42-, [Fe(CN)­6]4-, Fe3+), merah jingga (dikromat), ungu (permanganate), merah muda (Co dan Mn2+). Ada istilah kelarutan yang dikenal di Faramkope Indonesia III, yaitu:

Istilah kelarutan

Jumlah bagian pelarut diperlukan untuk melarutkan 1 bagian zat

Sangat mudah larut

Mudah larut

Larut

Agak sukar larut

Sukar larut

Sangat sukar larut

Praktis tidak larut

<1

1-10

10-30

30-100

100-1000

1000-10000

>10000

 

Adapun sampel yang diperoleh oleh kelompok kami pada saat uji kation yaitu:

  1. Kode sampel AEK2 memiliki warna putih,rasa halus,bentuk serbuk,tidak berbau,dan larut dalam aquades.Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel AEK2 tidak bereaksi dengan dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna lembayung. Jadi, kode sampel AEK2 merupakan K+  yang termasuk kation golongan V.
  2. Kode sampel Vynzzie memiliki warna hijau,rasa kasar,serbuk Kristal,tidak berbau,dan larut dalam auades.Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel Vynzzietidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna kuning. Jadi, kode sampel Vynzzie merupakan Na+  yang termasuk kation golongan V.
  3. Kode sampel KAFF memiliki warna ptih,rasa kasar,bentuk Kristal,tidak berbau,dan sangat larut dalam aquades.Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel KAFFtidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna kuning. Jadi, kode sampel KAFF merupakan Na+  yang termasuk kation golongan V.
  4. Kode sampel JOUNIN memiliki warna putih,rasa kasar,betuk Kristal,bberbau,dan sangat larut alam aquades.  Kode sampel Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel JOUNINtidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna merah bata. Jadi, kode sampel JOUNIN merupakan Mg2+  yang termasuk kation golongan V.
  5. Kode sampel DEVIL memiliki wana putih,rasa kasar,bentuk serbuk,tidak berbau,dan larut dalam aquades.Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel Devil tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna kuning. Kode sampel Devil merupakan Na+  yang termasuk kation golongan V.
  6. Kode sampel L & A memilki warna putih,rasa halus,bentuk serbuk,tidak berbau,dan larut dalam aquades.Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel L & A bereaksi dengan HCl membentuk endapan putih, yang berarti merupakan golongan I. Ketika dilakukan uji spesifik, kode sampel L & A bereaksi dengan NaOH membentuk endapan coklat. Jadi, kode sampel L & A merupakan Ag+  yang termasuk kation golongan I.
  7. Kode sampel AQAN memiliki rasa Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel AQAN tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dan dengan NH4Cl + NH4OH bereaksi membentuk endapan putih yang berarti termasuk kation golongan III. Ketika dilakukan uji spesifik, kode sampel AQAN bereaksi dengan (NH4)2S membentuk endapan merah jambu. Jadi, kode sampel AQAN merupakan Mn2+  yang termasuk kation golongan III.
  8. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel IIII tidak bereaksi dengan HCl,, dengan HCl + Na2S bereaksi membentuk endapan hitam yang berarti golongan II. Ketika dilakukan uji spesifik, kode sampel IIII bereaksi membentuk merah kecoklatan. Jadi, kode sampel IIII merupakan Hg2+  yang termasuk kation golongan IIA.
  9. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel THE bereaksi dengan HCl membentuk endapan putih yang berarti kation golongan I. Ketika dilakukan uji spesifik, kode sampel THE bereaksi dengan HClO4 membentuk endapan kristal putih. Jadi, kode sampel THE merupakan Pb2+  yang termasuk kation golongan I.
  10. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel ANDI tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna kuning. Jadi, kode sampel ANDI merupakan Na+ yang termasuk kation golongan V.
  11. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel XIX5 tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S bereaksi membentuk endapan hitam yang berarti golongan II. Ketika dilakukan uji spesifik, kode sampel XIX5 bereaksi dengan HNO3 berlebih  sehingga endapan hitamnya larut. Jadi, kode sampel XIX5 merupakan Cu2+  yang termasuk kation golongan IIA.
  12. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel YABG tidak bereaksi dengan HCl,  dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna lembayung. Jadi, kode sampel YABG merupakan K+  yang termasuk kation golongan V.
  13. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel GOL tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna lembayung. Jadi, kode sampel GOL merupakan K+  yang termasuk kation golongan V.
  14. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel CHUNIN tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna lembayung. Jadi, kode sampel CHUNIN merupakan K+  yang termasuk kation golongan V.
  15. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel RCTI tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna lembayung. Jadi, kode sampel RCTI merupakan K+  yang termasuk kation golongan V.
  16. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel ABCD tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH bereaksi membentuk endapan putih. Ketika dilakuakn uji spesifik, kode sampel ABCD bereaksi dengan (NH4)2S membentuk endapan merah jambu. Jadi, kode sampel Mn2+ yang termasuk kation golongan III.
  17. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel Kecil tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl + Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 juga tidak bereaksi. Sedangkan ketika dilakukan uji nyala dengan HCl, berwarna kuning. Jadi, kode sampel Kecil merupakan Na+  yang termasuk kation golongan V.
  18. Ketika dilakukan uji golongan, kode sampel AWTM tidak bereaksi dengan HCl, dengan HCl+Na2S tidak bereaksi, dengan NH4Cl + NH4OH tidak bereaksi, dan dengan NH4CO3 membentuk endapan putih. Sedangkan ketika dilakukan uji spesifik dengan ditambahkan HCl, berwara hijau kekuningan. Jadi kode samppel AWTM merupakan Ba yang termasuk golongan IV.

 

Namun pada saat melakukan percobaan terjadi kesalahan dalam menentukan jenis kationnya. Ada beberapa sampel yang tidak diketahui termasuk kation jenis apa. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahun tentang percobaan ini. Kesalahan pada percobaan identifikasi kation ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Kesalahan   personil dan operasi

Kesalahan yang disebabkan oleh cara pelaksanaan analisis dan analisis (persona) dan bukan karena metode, sedangkan kesalah operasi umumnya bersifat fisik.

  1. Kesalahan metode

Kesalahan ini disebabkan oleh cara pengambilan sampel dan kesalah akibat reaksi kimia yang tidak sempurna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Dirjen POM.1979. FarmakopeIndonesiaEdisiIII. Jakarta : Depkes RI

Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : PT Gramedia

Tim Penyusun, 2007. Acuan Praktikum Kimia Analisis Laboratorium Kimia Farmasi.

Jakarta : Universitas Indonesia.