makalah hemorroid

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam anal kanal. Hemoroid sangat umum terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas vena yan terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita, hemoroid yang disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang berarti akan hilang beberapa waktu setelah melahirkan. Hemoroid diklasifiksasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemorod yang terjadi diatas stingfer anal sedangkan yang muncul di luar stingfer anal disebut hemorod eksternal.
Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk. Hemoroid bisa mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden penyakit ini akan meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia 45-65 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman. Berdasarkan hal ini kelompok tertarik untuk membahas penyakit hemoroid.
I.2 Tujuan
Mampu memahami dan menjelaskan penatalaksanaan hemoroid.
BAB II
ISI

II.1 Definisi
Hemoroid adalah pembengkakan atau distensi vena di daerah anorektal. Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan. Istilah hemoroid lebih dikenal sebagai ambeien atau wasir oleh masyarakat awam. Sudah pasti kehadirannya akan mengundang segelintir rasa tidak nyaman. Hemoroid bukan saja mengganggu aspek kesehatan, tetapi juga aspek kosmetik bahkan sampai aspek sosial
Secara sederhana, kita bisa menganggap hemoroid sebagai pelebaran pembuluh darah, walaupun sebenarnya juga melibatkan jaringan lunak di sana. Hemoroid hampir mirip dengan varises. Hanya saja, pada varises pembuluh darah yang melebar adalah pembuluh darah kaki, sedangkan pada hemoroid pembuluh darah yang bermasalah adalah vena hemoroidalis di daerah anorektal. (dr.delken kuswanto)

II.2 Anatomi dan Fisiologi
Rektum panjangnya 15 – 20 cm dan berbentuk huruf S. Mula – mula mengikuti cembungan tulang kelangkang, fleksura sakralis, kemudian membelok kebelakang pada ketinggian tulang ekor dan melintas melalui dasar panggul pada fleksura perinealis. Akhirnya rektum menjadi kanalis analis dan berakhir jadi anus. Rektum mempunyai sebuah proyeksi ke sisi
Gambar. Anatomi dan fisiologi rektum
kiri yang dibentuk oleh lipatan kohlrausch. Fleksura sakralis terletak di belakang peritoneum dan bagian anteriornya tertutup oleh paritoneum. Fleksura perinealis berjalan ektraperitoneal. Haustra (kantong) dan tenia (pita) tidak terdapat pada rektum, dan lapisan otot longitudinalnya berkesinambungan.
Pada sepertiga bagian atas rektum, terdapat bagian yang dapat cukup banyak meluas yakni ampula rektum bila ini terisi maka imbullah perasaan ingin buang air besar. Di bawah ampula, tiga buah lipatan proyeksi seperti sayap – sayap ke dalam lumen rektum, dua yang lebih kecil pada sisi yang kiri dan diantara keduanya terdapat satu lipatan yang lebih besar pada sisi kanan, yakni lipatan kohlrausch, pada jarak 5 – 8 cm dari anus. Melalui kontraksi serabut – serabut otot sirkuler, lipatan tersebut saling mendekati, dan pada kontraksi serabut otot longitudinal lipatan tersebut saling menjauhi.
Kanalis analis pada dua pertiga bagian bawahnya, ini berlapiskan kulit tipis yang sedikit bertanduk yang mengandung persarafan sensoris yang bergabung dengan kulit bagian luar, kulit ini mencapai ke dalam bagian akhir kanalis analis dan mempunyai epidermis berpigmen yang bertanduk rambut dengan kelenjar sebacea dan kelenjar keringat. Mukosa kolon mencapai dua pertiga bagian atas kanalis analis. Pada daerah ini, 6 – 10 lipatan longitudinal berbentuk gulungan, kolumna analis melengkung kedalam lumen. Lipatan ini terlontar keatas oleh simpul pembuluh dan tertutup beberapa lapisan epitel gepeng yang tidak bertanduk. Pada ujung bawahnya, kolumna analis saling bergabung dengan perantaraan lipatan transversal. Alur – alur diantara lipatan longitudinal berakhir pada kantong dangkal pada akhiran analnya dan tertutup selapis epitel thorax. Daerah kolumna analis, yang panjangnya kira – kira 1 cm, di sebut daerah hemoroidal, cabang arteri rectalis superior turun ke kolumna analis terletak di bawah mukosa dan membentuk dasar hemorhoid interna.
Hemoroid dibedakan antara yang interna dan eksterna. Hemoroid interna adalah pleksus vena hemoroidalis superior di atas linea dentata/garis mukokutan dan ditutupi oleh mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah. Sering hemoroid terdapat pada tiga posisi primer, yaitu kanan depan ( jam 7 ), kanan belakang (jam 11), dan kiri lateral (jam 3). Hemoroid yang lebih kecil terdapat di antara ketiga letak primer tesebut. Hemoroid eksterna yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior terdapat di sebelah distal linea dentata/garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus.
Kedua pleksus hemoroid, internus dan eksternus berhubungan secara longgar dan merupakan awal aliran vena yang kembali bermula dari rektum sebelah bawah dan anus. Pleksus hemoroid interna mengalirkan darah ke vena hemoroidalis superior dan selanjutnya ke vena porta. Pleksus hemoroid eksternus mengalirkan darah ke peredaran sistemik melalui daerah perineum dan lipat paha ke vena iliaka.

II.3 Klasifikasi
Pada dasarnya hemoroid di bagi menjadi dua klasifikasi, yaitu :
II.3.1 Hemoroid Interna
Merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media. Terdapat pembuluh darah pada anus yang ditutupi oleh selaput lendir yang basah. Jika tidak ditangani bisa terlihat muncul menonjol ke luar seperti hemoroid eksterna.
Gejala – gejala dari hemoroid interna adalah pendarahan tanpa rasa sakit karena tidak adanya serabut serabut rasa sakit di daerah ini. Jika sudah parah bisa menonjol keluar dan terus membesar sebesar bola tenis sehingga harus diambil tindakan operasi untuk membuang wasir.
Hemoroid interna terbagi menjadi 4 derajat :
1. Derajat 1
Timbul pendarahan varises, prolapsi / tonjolan mokosa tidak melalui anus dan hanya dapat di temukan dengan proktoskopi.
2. Derajat 2
Terdapat trombus di dalam varises sehingga varises selalu keluar pada saat depikasi, tapi seterlah depikasi selesai, tonjolan tersebut dapat masuk dengan sendirinya
3. Derajat 3
Keadaan dimana varises yang keluar tidak dapat masuk lagi dengan sendirinya tetapi harus didorong.


4. Derajat 4
Suatu saat ada timbul keadaan akut dimana varises yang keluar pada saat defikasi tidak dapat di masukan lagi. Biasanya pada derajat ini timbul trombus yang di ikuti infeksidan kadang kadang timbul perlingkaran anus, sering di sebut dengan Hemoral Inkaresata karena seakan – akan ada yang menyempit hemoriod yang keluar itu, padahal pendapat ini salah karena muskulus spingter ani eksternus mempunyai tonus yang tidak berbeda banyak pada saat membuka dan menutup. Tapi bila benar terjadi. Inkaserata maka setelah beberapa saat akan timbul nekrosis tapi tidak demikiaan halnya. Lebih tepat bila di sebut dengan perolaps hemoroid.

Gambar. Hemoroid Interna Derajat 1-4


II.3.2 Hemoroid Eksterna
Merupakan varises vena hemoroidalis inferior yang umumnya berada di bawah otot dan berhubungan dengan kulit. Biasanya wasir ini terlihat tonjolan bengkak kebiruan pada pinggir anus yang terasa sakit dan gatal.
Hemoroid eksrterna jarang sekali berdiri sendiri, biasanya perluasan hemoroid interna. Tapi hemoroid eksterna dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu:
1. Akut
Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya adalah hematom, walaupun disebut sebagai trombus eksterna akut.
Tanda dan gejala yang sering timbul adalah : Sering rasa sakit dan nyeri serta rasa gatal pada daerah hemoroid.
2. Kronik
Hemoroid eksterna kronik atau “Skin Tag” terdiri atas satu lipatan atau lebih dari kulit anus yang berupa jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah.


II.4 Etiologi
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Beberapa factor etiologi telah digunakan, termasuk konstipasi/diare, sering mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, pembesaran prosfat; fibroma arteri dan tumor rectum. Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal sering mengakibatkan hemoroid karena vena hemoroidalis superior mengalirkan darah ke dalam system portal. Selain itu system portal tidak mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik.

II.5 Patofisiologi
Faktor penyebab faktor-faktor hemoroid adalah mengedan saat defekasi, konstipasi menahun, kehamilan dan obesitas. Keempat hal diatas menyebabkan peningkatan tekanan intra abdominal lalu di transmisikan ke derah anorektal dan elevasi yang tekanna yang berulang-ulang mengakibatkan vena hemoroidalis mengalami prolaps. Hasil di atas menimbulkan gejala gatal atau priritus anus akibat iritasi hemoroid dengan feses, perdarahan akibat tekanan yang terlalu kuat dan feses yang keras menimbulkan perdarahan, dan ada udema dan peradangan akibat infeksi yang terjadi saat ada luka akibat perdarahan. Proses di atas menimbulkan diagnosa gangguan intregritas kulit, nyeri, kekurangan volume cairan, dan kelemahan.

II.6 Manifestasi Klinik
Hemoroid menyebabkan rasa gatal dan nyeri dan sering menyebabkan perdarahan berwarna merah terang pada saat defekasi. Hemoroid eksternal dihubungkan dengan nyeri hebat akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis. Trombosis adalah pembekuan darah dalam hemoroid. Ini dapat menimbulkan iskemia pada area tersebut dan nekrosis. Hemoroid internal tidak selalu menimbulkan nyeri sampai hemoroid ini membesar dan menimbulkan perdarahan atau prolaps.

II.7 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan fisik yaitu inspeksi dan rektaltouche (colok dubur). Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba sebab tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid dapat diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar. Pemeriksaan colok dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.

a. Pemeriksaan dengan teropong yaitu anoskopi atau rectoscopy.

Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar. Anoskop dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi. Anoskop dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskuler yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan.
b. Pemeriksaan proktosigmoidoskopi
Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses harus diperiksa terhadap adanya darah samar.
c. Rontgen (colon inloop) dan/atau kolonoskopi.
Pemeriksaan darah, urin, feses sebagaimeriksaan penunjang

II.8 Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan hemoroid terdiri dari penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan bedah.
1. Penatalaksanaan Medis
Ditujukan untuk hemoroid interna derajat I sampai III atau semua derajat hemoroid yang ada kontraindikasi operasi atau klien yang menolak operasi.
a. Non-farmakologis
Bertujuan untuk mencegah perburukan penyakit dengan cara memperbaiki defekasi. Pelaksanaan berupa perbaikan pola hidup, perbaikan pola makan dan minum, perbaikan pola/cara defekasi. Perbaikan defekasi disebut Bowel Management Program (BMP) yang terdiri atas diet, cairan, serat tambahan, pelicin feses, dan perubahan perilaku defekasi (defekasi dalam posisi jongkok/squatting). Selain itu, lakukan tindakan kebersihan lokal dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit, 2-4 kali sehari. Dengan perendaman ini, eksudat/sisa tinja yang lengket dapat dibersihkan. Eksudat/sisa tinja yang lengket dapat menimbulkan iritasi dan rasa gatal bila dibiarkan.
b. Farmakologi
Bertujuan memperbaiki defekasi dan meredakan atau menghilangkan keluhan dan gejala. Obat-obat farmakologis hemoroid dapat dibagi atas empat macam, yaitu:
1. Obat yang memperbaiki defekasi
Terdapat dua macam obat yaitu suplement serat (fiber suplement) dan pelicin tinja (stool softener). Suplemen serat komersial yang yang banyak dipakai antara lain psylium atau isphaluga Husk (ex.: Vegeta, Mulax, Metamucil, Mucofalk) yang berasal dari kulit biji plantago ovate yang dikeringkan dan digiling menjadi bubuk. Obat ini bekerja dengan cara membesarkan volume tinja dan meningkatkan peristaltik usus. Efek samping antara lain ketut dan kembung. Obat kedua adalah laxant atau pencahar (ex.: laxadine, dulcolax, dll).
2. Obat simptomatik
Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri, atau kerusakan kulit di daerah anus. Jenis sediaan misalnya Anusol, Boraginol N/S dan Faktu. Sediaan yang mengandung kortikosteroid digunakan untuk mengurangi radang daerah hemoroid atau anus. Contoh obat misalnya Ultraproct, Anusol HC, Scheriproct.

3. Obat penghenti perdarahan
Perdarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya vena hemoroid yang dindingnya tipis. Psyllium, citrus bioflavanoida yang berasal dari jeruk lemon dan paprika berfungsi memperbaiki permeabilitas dinding pembuluh darah.
4. Obat penyembuh dan pencegah serangan
Menggunakan Ardium 500 mg dan plasebo 3×2 tablet selama 4 hari, lalu 2×2 tablet selama 3 hari. Pengobatan ini dapat memberikan perbaikan terhadap gejala inflamasi, kongesti, edema, dan prolaps.
c. Minimal Invasif
Bertujuan untuk menghentikan atau memperlambat perburukan penyakit dengan tindakan-tindakan pengobatan yang tidak terlalu invasif antara lain skleroterapi hemoroid atau ligasi hemoroid atau terapi laser. Dilakukan jika pengobatan farmakologis dan non-farmakologis tidak berhasil.
2. Penatalaksanaan Tindakan Operatif
Ada 2 prinsip dalam melakukan operasi hemoroid :
a. Pengangkatan pleksus dan mukosa
b. Pengangkatan pleksus tanpa mukosa
Teknik pengangkatan dapat dilakukan menurut 3 metode :
a. Metode Langen-beck (eksisi atau jahitan primer radier)
Dimana semua sayatan ditempat keluar varises harus sejajar dengan sumbu memanjang dari rectum.
b. Metode White head (eksis atau jahitan primer longitudinal)
Sayatan dilakukan sirkuler, sedikit jauh dari varises yang menonjol
c. Metode Morgan-Milligan
Semua primary piles diangkat
3. Penatalaksanaan Tindakan non-operatif
Dilakukan pada hemoroid derajat I dan II
a. Diet tinggi serat untukmelancarkan buang air besar
b. Mempergunakan obat-obat flebodinamik dan sklerotika
c. Rubber band ligation yaitu mengikat hemoroid dengan karet elastis kira-kira 1 minggu.

II.9 Pencegahan
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hemoroid antara lain:
i. Jalankan pola hidup sehat
ii. Olah raga secara teratur (ex.: berjalan)
iii. Makan makanan berserat
iv. Hindari terlalu banyak duduk
v. Jangan merokok, minum minuman keras, narkoba, dll.
vi. Hindari hubungan seks yang tidak wajar
vii. Minum air yang cukup
viii. Jangan menahan buang air kecil dan besar
ix. Duduk berendam pada air hangat
x. Sebisa meungkin menggunakan wc jongkok

II.10 Komplikasi
a. Terjadi trombosis
Karena hemoroid keluar sehinga lama – lama darah akan membeku dan terjadi trombosis.
b. Peradangan
Kalau terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat terjadi infeksi dan meradang karena disana banyak kotoran. Terjadinya perdarahan
Pada derajat satu darah keluar menetes dan memancar. Perdarahan akut pada umumnya jarang, hanya terjadi apabila yang pecah adalah pembuluh darah besar. Hemoroid dapat membentuk pintasan portal sistemik pada hipertensi portal, dan apabila hemoroid semacam ini mengalami perdarahan maka darah dapat sangat banyak. Yang lebih sering terjadi yaitu perdarahan kronis dan apabila berulang dapat menyebabkan anemia karena jumlah eritrosit yang diproduksi tidak bisa mengimbangi jumlah yang keluar. Anemia terjadi secara kronis, sehingga sering tidak menimbulkan keluhan pada penderita walaupun Hb sangat rendah karena adanya mekanisme adaptasi. Apabila hemoroid keluar, dan tidak dapat masuk lagi(inkarserata/ terjepit) akan mudah terjadi infeksi yang dapat menyebabkan sepsis dan bisa mengakibatkan kematian.

BAB III
CONTOH RESEP DAN PEMBAHASAN

III.1 Contoh Resep
R/ Pankreoflat No. VI
S 3 dd 1
R/ Anti haemoroid suppo No. X
S 2 dd 1 (ue)
R/ transamin No. X
S 3 dd 1
R/ Ardium No. XXX
S tr I-III 3 dd 2
tr IV-VII 3 dd 1
tr VII dst 2 dd1

III. 2 Uraian Resep
1. Resep Pertama
R/ Pankreoflat No. VI
S 3 dd 1
Isi : Pankreatin 170 mg setara amilase 5500 FIP, lipase 6500 FIP, proktase 400 FIP, dimetilpolisiloksan 80 mg
IN : Insufisiensi pankreas, meteorisme setelah operasi, persiapan untuk radioaktif dan abdomen pada meteorisme.
Ds : 1-2 tab pada waktu makan untuk persiapan radioaktif: sehari 3-4 kali 2 tab selama 2 hari sebelum pemeriksaan dan 2 tab pada perut masih kosong pada hari pemeriksaan
Alasan penggunaan :
Digunakan sebagai obat anti kembung
2. Resep Kedua
R/ Anti haemoroid suppo No. X
S 2 dd 1 (ue)
Isi : Bismuth Subgallate 150 mg, Hexachlorophene 2,5 mg, Lignocaine 10 mg, Zinc Oxide 120 mg.
IN : Hemoroid
Ds : 1-2 kali sehari sebelum tidur. Jangan dipakai terus menerus.
Alasan penggunaan :
obat ini digunakan untuk mengurangi pembengkakan yang terjadi di bagian rektum
3. Resep Ketiga
R/ transamin No. X
S 3 dd 1
Isi : asam traneksamat 250 mg
IN : Fibrinolisis pada menoraia, epitaksis. Komplikasi pada kehamilan.
KI : perdarahan subaraknoid, riwayat tromboembolik
MK : fibrinolitik tidak langsung dengan penghambatan kompetitif terhadap pengaktifan plasmin secara enzimatik oleh fibrinolisekinase.
Alasan penggunaan :
Obat ini digunakan untuk menghentikan peradangan yang diakibatkan oleh hemoroid
4. Resep Keempat
R/ Ardium No. XXX
S tr I-III 3 dd 2
tr IV-VII 3 dd 1
tr VII dst 2 dd1
Isi : ekstrak citrus sinensis pericarpium diosmin 90% dan hesperidin 10%
IN : nyeri tungkai, bengkak atau edema terutama pada malam hari; pada gejala fungsional terutama pada wasir.
Alasan penggunaan :
Obat ini juga berguna dalam penyembuhan hemoroid dari dalam dengan cara oral

III.3 Pembahasan
Dilihat dari penalaran resep diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa pasien tersebut mengalami hemoroid interna golongan derajat tiga. Hal ini dilihat dari pemberian obat-obat yang diberikan kepada pasien. Resep di atas merupakan resep untuk pasien hemoroid. Adapun kegunaan dari obat tersebut, yaitu Pankreoflat sebagai obat antikembung, antihemoroid suppo berfungsi sebagai antihemoroid untuk mengurangi pembekakan yang terjadi di bagian rektum, transamin digunakan untuk menghentikan pendarahan yang disebabkan oleh peradangan akibat dari hemoroid itu sendiri. Ardium digunakan juga sebagai antihemoroid yang dikomsumsi secara oral untuk mengatasi hemoroid itu dari dalam.

LAMPIRAN 
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Hemoroid adalah distensi vena di daerah anorektal. Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan. Istilah hemoroid lebih dikenal sebagai ambeien atau wasir oleh masyarakat. Akibat dari adanya hemoroid adalah timbulnya rasa tidak nyaman. Hemoroid bukan saja mengganggu aspek kesehatan, tetapi juga aspek kosmetik bahkan sampai aspek sosial. Hemoroid mengakibatkan komplikasi, diantaranya adalah terjadi trombosis, peradangan, dan terjadi perdarahan.Hemoroid juga dapat menimbulkan cemas pada penderitanya akibat ketidaktahuan tentang penyakit dan pengobatannya.

III.2 Saran
Perlu penyuluhan yang intensif tentang penyakit, proses penyakit dan pengobatannya pada penderita hemoroid. Menginformasikan tentang pencegahan-pencegahan terjadinya hemoroid dengan cara :
a. Sarankan untuk tidak banyak duduk atau kegiatan yang menenkan daerah bokong.
b. Sarankan untuk tidak terlalu kuat saat mengedan karena dapat menambah besar hemoroid.
Konstipasi

Konstipasi merupakan gangguan pada gastrointestinal yang paling banyak dijumpai. Seseorang dikatakan konstipasi jika buang air besar kurang dari 3 kali dalam seminggu. Tetapi frekuensi bukan satu-satunya indikator untuk disebut sebagai konstipasi. Indikator lain ialah sulit mengevakuasi feses karena feses keras, harus mengejan saat defekasi, atau rasa tidak tuntas meski buang air besar setiap hari.
Konstipasi sendiri sebenarnya bukan gejala; disebut kronik jika terjadi lebih dari 3 bulan. Pemberian obat-obatan pun dibatasi jika tidak lebih dari 3 bulan. Berdasar konsensus nasional penatalaksanaan konstipasi di Indonesia yang dibuat tahun 2006 oleh Perkumpulan Gatroenterologi Indonesia (PGI) disepakati, menurut kriteria ROME II, yang dimaksud dengan konstipasi kronik adalah adanya 2 atau lebih dari gejala-gejala berikut ini dalam waktu sedikitnya 12 minggu, yaitu :
a. Mengejan
b. Feses keras
c. Perasaan tidak tuntas saat buang air besar
d. Evakuasi feses secara manual
e. Buang air besar < 3 kali seminggu
Dalam pertemuan DDW (Digestive Disease Week) 2007 di Washington, AS, definisi konstipasi kronik telah berkembang dari kriteria ROME II menjadi ROME III yang menetapkan konstipasi terjadi lebih dari 3 hari per bulan selama sedikitnya 3 bulan dengan onset gejala paling tidak selama 6 bulan. Dan sebelum diagnosa, pasien mengalami gejala-gejala seperti yang dijelaskan pada criteria ROME II. Juga ditetapkan bahwa konstipasi kronik sebagai buang air besar yang jarang terjadi tanpa penggunaan laksatif.

Epidemiologi
Prevalensi konstipasi cukup tinggi di AS, terjadi pada 12-19% populasi. Setelah meninjau hasil analisis retrospektif dari data California Medicaid dari tahun 1995-2003, peneliti menyimpulkan bahwa prevalensi konstipasi kronik tampak meningkat.
Tampak bahwa selama periode 8 tahun itu, prevalensi tahunan konstipasi kronik meningkat dari 1,77% menjadi 2,18%. Peningkatannya sebesar 23%. Selama periode ini pula, komposisi jenis kelamin dari konstipasi kronik meningkat dari 34% menjadi 40% pada pria.
Sementara itu, data di ruang endoskopi RSCM selama periode 1998-2005 menunjukkan, dari 2397 pemeriksaan kolonoskopi, 216 kasus (9%) adalah atas indikasi konstipasi. Wanita lebih banyak daripada pria. Perubahan komposisi diet masyarakat serta pengaruh faktor sosiopsikogenik meningkatkan angka kejadian konstipasi.
Patofisiologi
Secara umum, konstipasi dibagi menjadi konstipasi primer dan konstipasi sekunder. Penye buang air besar konstipasi primer tidak diketahui dengan pasti, sedangkan konstipasi sekunder merupakan konstipasi yang disebabkan oleh penyakit atau kondisi lain, seperti tumor atau kanker kolon.

Faktor Resiko
Etiologi konstipasi dapat diidentifikasi pada beberapa pasien (misalnya penggunaan opioid). Tetapi pada sebagian besar, tidak dapat diketahui dengan jelas. Chang dan kolega menggunakan kuesioner tervalidasi, untuk mengidentifikasi faktor resiko potensial untuk konstipasi kronik. Terdapat 643 responden dan 93 subjek teridentifikasi memiliki konstipasi kronik. Menarik bahwa pasien berusia 30-64 tahun, konstipasi kronik berhubungan dengan penggunaan aspirin, OAINS, dan mengonsumsi lebih dari tujuh tablet PCT per minggu.
Meski jumlah sampel studi terbilang kecil dan mekanisme yang mendasari hubungan ini tidak dapat dijelaskan, hasil ini menunjukkan bahwa mungkin perlu memasukkan aspirin dan PCT pada daftar obat yang dapat menginduksi atau memperburuk konstipasi.
Selain obat-obatan, hal-hal di bawah ini juga merupakan faktor resiko terjadinya konstipasi, yaitu :
a. Lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria
b. Kurang aktifitas fisik
c. Kurang asupan makanan dan minuman
d. Diet rendah serat
e. Depresi

Tes dan Diagnosa
Tes dan diagnosa untuk konstipasi meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis mencakup pemeriksaan karakteristik konstipasi, gejala penyerta lain pada GI, penyakit penyerta, penggunaan obat-obatan, nutrisi, serta imobilisasi dan kurangnya aktifitas fisik.
Perlu diperhatikan jika terdapat hal-hal berikut :
a. Hematokezia yakni perdarahan dari anus dengan warna merah segar
b. Tumor abdominal
c. Sejarah keluarga akan malignansi kolorektal dan IBD
d. Penurunan berat badan 5 kg atau lebih
e. Anoreksia
f. Mual dan muntah kronik
g. Konstipasi terjadi pertama kali dan semakin memburuk
h. Konstipasi akut pada lansia
i. Anemia

Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium, radiologi (foto polos enema, barium enema), kolonoskopi/rektosigmoidos-kopi, pemeriksaan fisiologis kolorektal, serta balloon expulsion dan defekografi. Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, feses, kalsium, glukosa, elektrolit, dan tes fungsi tiroid.

Sinar X Barium Enema

Pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat rektum, kolon, dan usus kecil bagian bawah untuk mengetahui lokasi masalahnya. Tes ini dapat menunjukkan obstruksi intestinal dan penyakit hirschsprung. Malam sebelum menjalani tes, dilakukan pembersihan bowel untuk membersihkan saluran cerna bawah. Pasien minum cairan khusus untuk membilas kotoran keluar dari usus. Usus yang bersih itu penting, karena tinja dalam jumlah kecil pun dapat mempersulit pemeriksaan.
Karena kolon tidak terlihat baik pada sinar X, maka diisi barium. Begitu campuran melapisi bagian dalam kolon dan rectum, sinar X diambil, yang menunjukkan bentuk dan kondisi mereka. Pasien mungkin merasa sedikit kram pada perut, ketika barium mengisi kolon dan biasanya merasa sedikit tidak nyaman setelah prosedur. Tinja mungkin berwarna putih selama beberapa hari setelah pemeriksaan.

Sigmoidoskopi atau kolonoskopi

Kolonoskopi dapat dilakukan untuk mengetahui tipe konstipasi, fungsional atau organik. Dengan demikian dapat diketahui kemungkinan komplikasi serta pengobatannya. Tes ini merupakan pemeriksaan pada rektum dan bagian bawahnya, atau sigmoid. Pasien umumnya diberi makanan cair malam sebelum kolonoskopi atau sigmoidoskopi, dan menggunakan enema pada pagi harinya. Penggunaan enema 1 jam sebelum tes, mungkin juga diperlukan.
Untuk sigmoidoskopi, digunakan sigmoidoskop untuk melihat rektum dan kolon bawah. Pasien diberi sedikit sedasi sebelum pemeriksaan. Dokter memeriksa rektum dengan jari menggunakan sarung tangan. Kemudian sigmoidoskop dimasukkan melalui anus ke dalam rectum dan kolon bawah. Prosedur dapat menyebabkan tekanan abdominal dan sensasi ringan untuk buang air besar. Kolon dapat diisi dengan udara untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik, namun udara dapat menyebabkan kram ringan.
Untuk kolonoskopi, digunakan kolonoskop untuk melihat keseluruhan kolon. Selama pemeriksaan, pasien berbaring menyamping, dan alat dimasukkan melalui anus dan rectum ke dalam kolon. Jika terlihat abnormalitas, dapat digunakan kolonoskop untuk mengambil sejumlah kecil jaringan untuk pemeriksaan (biopsi). Pasien mungkin merasa kembung setelah prosedur.

Colonic Transit Test

Gambar. Penanda sinar X
Tes ini menunjukkan bagaimana makanan melalui kolon dengan baik. Pasien menelan kapsul yang berisi penanda kecil, yang terlihat pada sinar X. Pergerakan penanda melalui kolon dimonitor oleh sinar X abdominal yang diambil beberapa kali, yaitu 3-7 hari setelah kapsul ditelan. Pasien memakan makanan tinggi serat selama masa tes ini.

Tes fungsi anorektal
Tes ini mendiagnosa konstipasi yang disebabkan oleh gangguan fungsi anus atau rectum (juga disebut fungsi anorektal), yang mencakup :
a. Manometri anorektal, mengevaluasi fungsi otot sfingter anal. Untuk tes ini, sebuah kateter atau balon berisi udara dimasukkan ke dalam anus dan perlahan ditarik ke belakang melalui otot sfingter untuk mengukur kontraksi dan denyut otot.
b. Baloon expulsion test, pengisian balon dengan sejumlah air setelah dimasukkan secara rektal. Kemudian pasien diminta untuk mengeluarkan balon. Ketidakmampuan untuk mengeluarkan balon yang diisi dengan < 150 ml air dapat mengindikasi turunnya fungsi usus.

Defekografi
Defekografi adalah pemeriksaan sinar X pada area anorektal yang mengevaluasi pengeluaran tinja, mengidentifikasi abnormalitas anorektal dan mengevaluasi kontraksi dan relaksasi otot rektal. Selama pemeriksaan, dokter mengisi rectum dengan pasta lembut yang mirip dengan konsistensi tinja. Kemudian pasien duduk pada toilet yang di dalamnya ditempatkan mesin sinar X, kemudian rileks dan mendorong anus untuk mengeluarkan pasta tersebut. Dipelajari sinar X untuk masalah anorektal, yang terjadi ketika pasta dikeluarkan.

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin timbul akibat konstipasi fungsional, jelas akan mengganggu kualitas hidup penderita. Komplikasi paling umum adalah hemoroid atau perdarahan karena hemoroid, juga divertikulosis. Peningkatan tekanan intrakolorektal, pada akhirnya akan menimbulkan kelainan-kelainan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Cari sendiri yahh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s